Nasional

Gaya Pidato Tommy dan AHY, Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya

Penampilan dan gaya berpidato Tommy Soeharto dan Agus Harimurti Yudhoyono dinilai tak beberda jauh dengan pendahulu mereka yang merupakan mantan presiden RI.

GILANGNEWS.COM - Akhir pekan kemarin publik disuguhi penampilan dua anak mantan presiden. Mereka adalah putra bungsu mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto; dan putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Keduanya unjuk diri dengan berpidato di atas mimbar di hadapan ratusan kader partainya masing-masing. Tommy berpidato dalam acara Rapat Pimpinan Nasional ke-III Partai Berkarya di Solo, Jawa Tengah pada Sabtu (10/3). Sementara AHY, berpidato dalam acara Rapimnas Partai Demokrat di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/3).

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai dari gaya dan isi pidato yang disampaikan, masing-masing dari mereka berusaha unjuk diri kepada publik sebagai representasi dari petarung politik yang patut diperhitungkan.

"Tommy telah unjuk diri sebagai fighter. Begitu juga dengan AHY. Dua-duanya bakal terus menjadi sorotan hingga Pemilu dan Pilpres 2019," kata Adi kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Minggu (11/3).

Gaya Bahasa Orde Baru

Adi menilai Tommy terlalu banyak bicara ihwal misi pemenangan partainya dalam menghadapi Pemilu 2019. Banyak hal yang bersifat taktis yang perlu dilakukan partainya.

Menurut Adi, pidato Tommy cenderung tak menarik untuk disimak lantaran lebilh banyak berkutat dengan strategi partai. Meski begitu, Tommy setidaknya telah menunjukkan karakter pribadinya melalui pidatonya tersebut.

"Isi pidatonya tidak ada yang filosofis. Jadi bagi Tommy, politik hanya sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan. Dia tidak bicara kanan kiri seperti AHY," kata Adi.

Misalnya, ketika Tommy menargetkan partainya meraih tiga kursi di setiap DPRD kabupaten/kota. Tommy sudah memperhitungkan hal tersebut. Dia mengatakan satu kursi DPRD harus ditebus dengan 12 ribu suara, dan diperlukan 36 ribu suara untuk bisa menduduki tiga kursi di setiap DPRD kabupaten/kota. Jika berhasil meraih 36 ribu suara di 514 kabupaten/kota, kata Tommy, Partai Berkarya dengan sendirinya akan menjadi partai tiga besar di DPR.

Target tersebut ingin dicapai Tommy dengan menempatkan setiap wakil ketua umum untuk bertanggungjawab terhadap 16 daerah pilihan (dapil). Tommy pun meminta badan pemenangan pemilu (bapilu) yang berada di bawah kendali wakil ketua umum, agar merangkul koperasi, usaha kecil menengah (UKM), hingga pedagang kaki lima.

"Tidak ada yang argumentatif dan filosofis. Lebih kepada bagaimana Partai Berkarya bisa lolos ke Senayan dan menjadi tiga besar," tutur Adi.

Terlepas dari itu, Tommy sempat menyinggung poin lain dalam pidatonya, yakni mengkritik utang luar negeri Indonesia yang semakin membengkak. Menurut Adi, hal tersebut merupakan kelanjutan dari pernyataan Tommy sebelumnya yang kerap mengkritik keras Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Adi mengakui bahwa Tommy tidak mengkritik secara panjang lebar meski memiliki waktu yang cukup banyak. Namun, gelagat Tommy semakin jelas menunjukkan bahwa dirinya ingin mengambil perhatian masyarakat yang kurang puas dengan kepemimpinan Jokowi. Adi memprediksi bahwa Partai Berkarya bakal menjaring suara dari mereka yang tidak ingin Jokowi menjadi presiden dua periode.

"Ingin memanfaatkan ketidakpuasan dengan pemerintah terutama dengan hutang yang berlimpah saat ini. Dia berharap bola muntah saja. Mereka yang tidak tertangkap Jokowi, diambil Tommy," ucap Adi.

Di sisi lain, Tommy pun berusaha mengenalkan dirinya kepada publik sekaligus partai koalisi pemerintah sebagai penantang Jokowi dengan cara melontarkan kritik yang diselipkan dalam pidatonya.

Adi meyakini Partai Berkarya tidak akan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019. Adi pun yakin Partai Berkarya akan lebih sering dan lebih pedas mengkritik Presiden Jokowi setelah Tommy menjabat sebagai ketua umum. Asumsinya berangkat dari gelagat Tommy yang tidak pernah memuji pencapaian Jokowi meski hanya satu kalimat pun.

"Tommy selalu menegaskan partainya berbeda dengan pemerintah saat ini. Ini jelas pesannya," tutur Adi.

Adi lalu menyoroti gaya Tommy berpidato terutama dalam penggunaan kata. Adi melihat Tommy kerap menggunakan kata yang identik dengan masa Orde Baru, seperti kata 'daripada' di hampir setiap jeda kalimat.

Adi menilai tidak ada misi tertentu dari penggunaan kata tersebut. Tommy kerap menggunakan kata 'daripada', menurut Adi, lebih karena kebiasaan yang belum bisa hilang.

"Bukan ingin menunjukkan bahwa dirinya ingin mengembalikan gaya Orde Baru," ucap Adi.

Like Father Like Son

Mengenai pidato AHY, Adi menilai ada banyak perubahan dari cara mantan calon gubernur DKI Jakarta tersebut dalam beretorika.

"Sangat berbeda dibanding saat Pilkada DKI Jakarta lalu. Sepertinya dia atau Demokrat telah menempa AHY sangat lama," kata Adi.

Adi menilai AHY telah menggunakan diksi yang sederhana sehingga mudah dipahami. Selain itu, AHY pun sama sekali tidak tampak tegang. Tiap gestur AHY, dari gerakan badan, senyum, hingga pandangannya menunjukkan bahwa mantan tentara berpangkat Mayor tersebut telah menunjukkan perkembangan signifikan.

"Kalau pas Pilkada DKI dulu kan seolah langkahnya saja diberi aba-aba. Bahasanya juga sering jelimet. Kalau sekarang sudah jauh berbeda," kata Adi.

Ihwal isi pidato AHY, Adi menilai cenderung bersifat normatif dan telah diketahui oleh publik secara umum. Misalnya, ketika AHY mengungkapkan bahwa masyarakat semakin tertekan dengan pemberlakukan pajak yang semakin menjepit --yang memang dialami semua lapisan masyarakat.

Begitu pula ketika AHY mengungkit masalah pendapatan dan daya beli masyarakat serta kemiskinan. Tidak ada yang bisa dikritik dari pemaparan AHY karena hal-hal umum yang dipaparkan.

"Semua orang pasti setuju. Dia juga pintar karena tidak menyebut angka," ucap Adi.

Adi lalu menyoroti pidato AHY yang sempat mengapresiasi Presiden Jokowi dan presiden-presiden sebelumnya. Menurut Adi, AHY telah menunjukkan kedewasaannya dengan tidak menutup mata atas pencapaian presiden-presiden sebelumnya.

AHY mengatakan bahwa keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur tidak lepas dari pencapaian Presiden SBY selama dua periode. Keberhasilan SBY, kata AHY, juga tidak lepas dari prestasi Megawati Soekarnoputri dan Abdurrahman Wahid yang telah menjalankan tuntutan reformasi. Megawati dan Gusdur, kata AHY, pun tidak bisa berhasil jika Habibie tidak menghelat Pemilu 1999. Begitu pula seterusnya hingga keberhasilan Soeharto dan Soekarno di masa silam.

"Mengapresiasi pertalian prestasi presiden sebelum-sebelumnya itu memang harus. Itu menarik karena proporsional. Tidak gelap mata. Bentuk kedewasaan dalam berpolitik juga," ujar Adi.

Hal lain yang disoroti Adi yakni ketika AHY tampak meneruskan gaya komunikasi sang ayah selama ini, yakni SBY. Gaya komunikasi yang dimaksud yakni ketika AHY memuji namun tidak sepenuhnya memuji. Begitu pula ketika mengkritik namun tidak disampaikan secara tegas.

AHY memang sempat mengucapkan terima kasih kepada Jokowi atas hasil dan prestasi yang telah dicapai sejauh ini khususnya infrastruktur di bidang pekerjaan umum dan perhubungan. Di sisi yang lain, Adi menilai AHY juga mengkritik Jokowi namun tidak dinyatakan secara langsung.

Kritik tidak langsung yang dimaksud yakni ketika AHY mengatakan bahwa Demokrat bakal lebih terlibat langsung untuk memastikan situasi dan kondisi Indonesia agar jauh lebih baik jika menjadi bagian di pemerintahan selanjutnya.

"Sebetulnya itu kan kritik tapi soft. Enggak hitam dan putih," kata Adi.

"Seharusnya kan bisa saja dia bilang pemerintahan saat ini kurang terlibat langsung dengan masyarakat. Mengapa dia bilang Demokrat akan lebih terlibat langsung jika jadi pemerintah? Mengkritik tapi seolah tidak mengkritik," lanjut Adi.

Menurut Adi, gaya mengritik yang dilakukan AHY tersebut tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan SBY. Adi menilai budaya tersebut memang dibangun di lingkungan kader Demokrat untuk menunjukkan bahwa Demokrat memang berada di tengah-tengah. Tidak berada di blok Jokowi dan tidak berada di blok Prabowo Subianto.

"Selain itu, ya, memang buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Tidak berbeda jauh dengan bapaknya," ucap Adi.


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar