Dunia

Hari pertama unjuk rasa warga Palestina di Gaza diwarnai korban jiwa

Gas air mata yang ditembakkan tidak menyurutkan para pengunjuk rasa di seberang pagar pengaman.

GILANGNEWS.COM - Sumber-sumber Palestina di Gaza mengatakan empat pengunjuk rasa tewas ditembak aparat keamanan Israel dan ratusan lainnya cedera di kawasan perbatasan dengan Israel.

Warga Palestina memulai aksi unjuk rasa massal, Jumat (30/03), yang rencananya akan berlangung selama enam pekan. Sebagian pengunjuk rasa melempari batu dan bom botol.

Militer Israel melaporkan terjadi kerusuhan di enam tempat dan mereka 'melepas tembakan ke arah para penghasut utama'.

Gas air mata ditembakkan untuk membubarkan pengunjuk rasa di seberang pagar pengaman.

Otorita Kesehatan Gaza menyebutkan salah seorang korban jiwa adalah remaja berusia 16 tahun, Ahmed Ouda, yang ditembak di sebelah utara Kota Gaza.

Beberapa jam sebelum unjuk rasa berlangsung, pihak berwenang Palestina sudah menyatakan seorang petani Palestina tewas kena tembakan tank Israel di dekat kota Khan Yunis di perbatasan selatan Gaza.

Identitas petani tersebut adalah Omar Samour, 27 tahun, yang menurut saksi mata sedang bekerja di lahan pertaniannya ketika tembakan mengenainya.

Seorang lainnya yang bekerja bersama Samour dilaporkan menderita luka tembak.

Militer Israel mengatakan satu tank melepas tembakan atas dua tersangka yang melakukan kegiatan mencurigakan di dekat pagar pengamanan.

Israel mengerahkan tambahan pengamanan di perbatasan -antara lain lebih dari 100 penembak jitu- karena kekhawatiran aksi unjuk masa akan berupaya menerobos pagar pengaman.

Ribuan warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, menggelar aksi unjuk rasa dan beberapa sudah mendirikan tenda-tenda untuk bertahan selama enam pekan.

Aksi yang disebut 'Pawai Besar Kepulangan' berlangsung hingga 15 Mei, hari peringataan Nakba atau bencana, ketika tahun 1948 lalu sekitar 700.000 warga Palestina diusir atau mengungsi akibat perang yang mendorong berdirinya negara Israel.

Militer Israel sudah melarang pergerakan di sepanjang perbatasan Gaza dengan alasan keamanan dan memperingatkan warga Palestina tidak mendekati pagar pengaman.

Kelompok Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, menuduh Israel mengintimidasi warga Palestina dengan menewaskan petani tersebut dan meminta agar tidak ikut serta dalam unjuk rasa.

Sementara Kementrian Luar Negeri Israel berpendapat bahwa aksi unjuk rasa merupakan 'upaya yang disengaja untuk memprovokasi konfrontasi dengan Israel' dan 'tanggung jawab atas setiap bentrokan semata-mata terletak pada Hamas dan organisasi-organisasi Palestina lain yang berpartisipasi'.

Pawai Besar Kepulangan dimulai Jumat 30 Maret, untuk mengenang pembunuhan enam pengunjuk rasa oleh aparat keamanan Israel pada saat protes penyitaan tanah tahun 1976 lalu.

Direncanakan berlangsung hingga 15 Mei, unjuk rasa juga dikaitkan dengan rencana pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jerusalem, yang ditentang keras oleh Palestina dan beberapa negara Islam.

Pemerintah Washington merencanakan pembukaan kedutaan besarnya pada 14 Mei, bersamaan dengan 70 tahun berdirinya Israel.

Negara Israel berdiri pada 14 Mei tahun 1948 namun sebenarnya pada Iyar 5 tahun 1948 berdasarkan kalender Ibrani, yang tahun ini jatuh pada 20 April.


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar