Dunia

ISIS mengaku serang KPU Libia untuk kacaukan pemilu di negara-negara Islam

Serangan bom bunuh diri di kantor Komisi Pemilihan Umum di ibu kota Libia, Tripoli, yang menewaskan sedikitnya 12 orang, merupakan pelaksanaan dari ancaman ISIS.

GILANGNEWS.COM - Kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS mengancam akan melakukan serangan selama proses pemilihan umum di negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam.

Serangan bom bunuh diri di kantor Komisi pemilihan umum di ibu kota Libia, Tripoli, yang menewaskan sedikitnya 12 orang, merupakan pelaksanaan dari ancaman tersebut.

Walaupun tidak secara rinci menyebut nama negaranya, juru bicara ISIS mengatakan ancaman serangan itu sebelumnya secara khusus ditujukan kepada Mesir dan Irak.

Dalam serangan di Kantor pemilihan umum Libia, ISIS mengklaim bertanggung jawab, tetapi tidak memberikan bukti-bukti atas klaimnya tersebut.

Setidaknya ada seorang pelaku bom bunuh diri yang meledakkan dirinya saat berada di dalam kantor pemilu, sementara lainnya menembak dan membakar gedung tersebut.

Serangan di kantor penyelenggara pemilu Libia ini disebut salah-satu serangan yang paling mematikan di ibu kota Libya, Tripoli, dalam beberapa tahun terakhir.

Selain menewaskan sedikitnya 12 orang, serangan brutal ini melukai sejumlah orang lainnya.

Sejumlah saksi mata mengatakan, para militan itu menembaki para pegawai komisi pemilu dan terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan Libia.

Libia dilanda kekacauan sejak penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011 dan ada kekhawatiran bahwa kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS kembali bercokol di wilayah itu.

Setelah periode 42 tahun pemerintahannya berakhir, negara itu terpecah yang ditandai beberapa kelompok bersenjata yang bersaing satu sama lain.

Kelompok militan ISIS adalah salah-satu dari beberapa kelompok militan yang masih beroperasi secara aktif di Libia.

Walaupun banyak pengamat merisaukan pemilu di Libia dapat berjalan lancar, karena negara itu terpecah secara politik dan militer, masyarakat internasional tampaknya berharap pemilu itu dapat dijadikan pijakan awal untuk melangkah.
ISIS mempertahankan sel-sel tidur

Juru bicara Komisi pemilihan umum Libia, Khaled Omar mengatakan kepada Kantor berita Reuters bahwa tiga komisioner dan empat petugas keamanan tewas dalam serangan itu.

Kementerian Kesehatan Libia kemudian menyebutkan jumlah orang yang tewas sedikitnya 12 orang.

Omar mengaku melihat para penyerang, termasuk dua pelaku bom bunuh diri, menyerbu gedung dan melihat tubuh mereka berserakan setelah ledakan itu terjadi.

Dia menambahkan petugas keamanan kemudian memasuki gedung untuk berusaha menghentikan serangan itu.

Kelompok militan ISIS pernah menjadi kekuatan besar di Libia, dan mereka beroperasi dari kota Sirte. Kelompok ini berhasil diusir dari kota di pesisir itu pada akhir 2016.

Namun demikian mereka diyakini masih mempertahankan sel-sel tidur di kota-kota yang terletak di kawasan pesisir.
PBB: Serangan tidak halangi Libya untuk terus maju

Setelah serangan ini, pemerintah Libia belum menetapkan jadwal waktu untuk pemberian suara pemilu, tetapi komisi pemilihan telah melakukan pendaftaran terhadap calon pemilih.

Dalam jumpa pers, Kepala Komisi pemilihan umum Libia mengatakan serangan bersenjata itu sampai merusak daftar pemilih, karena pihaknya sudah memiliki salinannya.

PBB - yang mendukung pemerintah persatuan yang berpusat di Tripoli - mengatakan serangan itu "tidak akan menghalangi rakyat Libia untuk terus maju."


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar