Nasional

20 Tahun Reformasi Usaha Soeharto Bungkam Amien: Beri Kode, Hingga Kriminalisasi

Sebelum reformasi 1998, Amien Rais sering berceramah dari kampus ke kampus untuk menyuarakan kebobrokan rezim Orde Baru.

GILANGNEWS.COM - Penguasa Orde Baru, Soeharto, punya beragam cara, lunak hingga keras, untuk membungkam kritik tokoh Reformasi, Amien Rais. Tak ada satu pun yang berakhir sukses, karena Amien cuma berpinsip: Soeharto harus turun. Amien mengklaim tak punya motif politis di dalamnya.

Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh, Juli 1995, menjadi momentum istimewa karena dihadiri oleh Presiden RI ke-2 Soeharto. Sebelum membuka Muktamar, Soeharto sempat mengajak Amien ke belakang panggung untuk berbicara empat mata.

"Pak Harto bilang, 'Pak Amien, saya kan waktu itu [sekolah] di SMU Muhammadiyah, Solo. Jadi saya Muhammadiyah lho, Pak Amien'," kata Amien, saat ditemui di kediamannya, di Perumahan Taman Gandaria, Jakarta, Jumat (19/4), menirukan ucapan Soeharto.

"Iya Pak, saya tahu Bapak sering membantu sekolah-sekolah Muhammadiyah di Jogja," timpal Amien, ketika itu.

Tak ada tambahan pesan-pesan eksplisit. Namun, menurutnya, ucapan Soeharto itu merupakan 'kode' khusus jika ditilik dari filosofi orang Jawa.

"Saya tahu maksud Pak Harto itu; sesama Muhammadiyah jangan saling mengkritik lah," jelas Amien, yang merupakan kelahiran Surakarta.

Hal yang sama kemudian dikatakan Soeharto dalam sambutannya di Muktamar itu. Kolega Amien di Muhammadiyah, Yahya Muhaimin, kemudian membisikinya, "Tuh, Amien, jangan ngomong kritik, jangan ngomong suksesi."

"Saya tetap menghormati [Soeharto], tapi yang harus terjadi ya terjadi," timpal Amien.

Pada Muktamar Muhamamdiyah ke-43 itu, Amien meraih suara dukungan lebih dari 90 persen untuk menduduki posisi Ketua PP Muhammadiyah, yang saat itu disebut memiliki 28 juta anggota.

Amien, profesor ilmu politik UGM, diketahui sejak sekitar 1993 mulai rutin mengkritisi Soeharto dan sistem Orde Baru di saat yang lain masih bungkam. Di antaranya, soal pengelolaan sumber daya pertambangan dan nepotisme di lingkaran elite Cendana. Ia kemudian menyerukan pergantian kepemimpinan. Seruan itu makin menjadi seusai muktamar.

Kriminalisasi

Jaksa Agung Singgih, kata Amien, pernah diminta oleh Soeharto untuk memidanakannya dengan kasus yang dicari-cari alias kriminalisasi. Namun, Jaksa Agung masih berpikir tentang puluhan juta massa Muhammadiyah yang ada di belakang Amien.

Singgih lantas mengadakan rapat bersama Menteri Dalam Negeri, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), dan Menteri Koordinator Sosial Politik.

"Gimana nih, ada perintah Pak Harto? Di antara tokoh itu ada yang mengatakan, 'ini Amien Rais kan Ketua Muhammadiyah, dia simbol moral, jadi kalau kita demonisasi [melebih-lebihkan kejahatan], nanti apa tidak bahaya?'," tutur Amien, menggambarkan pembahasan dalam rapat itu.

Jaksa Agung kemudian memutuskan mengirim tim ke Yogyakarta untuk melobi Amien. Mereka menanyakan sebanyak 62 pertanyaan kepada Amien terkait dengan kritik-kritik Amien. Tim jaksa kemudian memintanya membat surat pernyataan soal kesediaan meminta maaf kepada Soeharto.

Amien mulanya menolak, karena menganggap permintaan maaf berarti pengakuan bahwa kritiknya selama ini salah. Jalan tengah kemudian ditemukan.

"Kalau ceramah saya di berbagai kampus dan di berbagai masjid ada yang mengganggu Pak Harto, ada yang membuat Pak Harto tak enak, saya minta maaf," tulis Amien.

Usai kasus itu, pria kelahiran 74 tahun lalu itu tetap kritis.

Soeharto mencari jalan lain. Amien masuk jajaran pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Tak lama, ia mengungkap soal nepotisme dalam mengontrol tambang emas Busang. Pak Harto meminta Ketua ICMI Bacharuddin Jusuf Habibie untuk mendepak Amien.

"Ya sudah, saya keluar demi persatuan," ucapnya.

Cara-cara di atas, kata Amien, hanya segelintir saja pendekatan yang dilakukan penguasa untuk menekannya. Masih ada usaha dalam bentuk, misalnya, tekanan dari intelijen terhadap Rektor UGM agar membungkamnya, dan teror mental secara langsung.

"Kalau ancaman tiap malam, nelpon ke saya, 'halo, sudah bosan hidup ya?', 'halo, sudah ingin mati ya?'. Itu biasa," aku dia.

Lalu apa yang membuat Anda berani terus mengkritik Soeharto secara frontal ketika itu? "Lagi-lagi saya kembali ke tuntunan kitab suci saya, dikatakan, orang-orang yang mendirikan salat, yang bayar zakat, itu akan menjadi hamba Allah yang tak takut kepada siapapun kecuali dengan Yang Di Atas," jawabnya.

Ambisi Berkuasa

Pada akhirnya, Soeharto menyatakan berhenti dari posisi Presiden RI, pada Kamis (21/5/1998), usai demonstrasi besar dan kerusuhan massal. Amien, karena konsistensi kritiknya, pun dijuluki 'Bapak Reformasi'. Popularitas menghampiri.

Namun demikian, Amien mengaku kerja kritisnya itu bukan bertujuan demi menggantikan Soeharto. Meskipun, beberapa kali ia sempat bertemu Pangkostrad kala itu, Prabowo Subianto, dan digadang-gadang sebagai "duet ideal".

"No, no, tak tersirat sama sekali. Karena di dalam ajaran agama, berjuang demi sesuatu itu jadi enggak ikhlas, itu malah bukan buat Tuhan," tepisnya.

Pada Agustus 1998, ia mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Pada Pemilu Legislatif 1999, partainya meraih posisi kelima. Berkat kelihaiannya, Amien bisa meraih posisi Ketua MPR. Pada saat yang sama, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung meraih posisi Ketua DPR.

Sidang Umum MPR, Oktober 1999, menolak pidato pertanggungjawaban Habibie sebagai Presiden RI. Dia kemudian meminta Amien untuk maju pada Pemilihan Presiden yang ketika itu masih dilakukan MPR, beberapa hari setelah pelantikannya sebagai Ketua MPR. Sejumlah tokoh dari PDIP, PAN, Partai Keadilan, Utusan Daerah, hingga militer, pun menyatakan hal yang sama.

"Saya bilang, 'Pak Habibie, kalau saya sampai menerima ini, saya bakal dituduh mencuri di tikungan. Saya sudah disumpah lima tahun menjadi Ketua MPR," dalih Amien.

Para tokoh tetap mendesaknya. Amien kemudian meminta waktu berkonsultasi dengan ibundanya, Sudalmiyah Rais. "Ibu saya bilang, 'Amien, kavlingmu itu adalah kursi MPR [selama] lima tahun. Kamu jangan teperdaya, jangan terpikat oleh itu. Ibu melihat kamu [sudah] disumpah [sebagai Ketua MPR] dan jangan pindah," ucap Amien, menirukan kata-kata ibunya.

Atas alasan itulah Amien menolak desakan untuk menjadi capres. Ia kemudian lebih mendorong Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang kemudian memenangkan pertarungan melawan Megawati Soekarnoputri.

Kalau waktu itu ibunda mengizinkan untuk menjadi capres bagaimana, Pak? "Saya kira seperti itu, karena juga sudah harapan banyak orang, saya itu udah [menjadi] next President," klaimnya.

Menurutnya, ambisi untuk menjadi Presiden baru muncul sebelum Pemilu Presiden 2004. Saat itu, ia yang maju berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo hanya meraih 14,66 persen suara. Kursi Presiden-Wakil Presiden pun menjadi milik Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar