Nasional

Analisis Menakar Umur Ideologi Aman Abdurrahman dan Pengikutnya

Ada konsekuensi tersendiri jika Aman dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup, yang berpengaruh terhadap perkembangan pemikirannya.

GILANGNEWS.COM - Tuntutan hukuman mati buat pimpinan Jemaah Anshorut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman, masih menyisakan kekhawatiran. Utamanya adalah soal umur ideologi organisasi dan para pengikutnya.

Pengamat terorisme Al Chaidar menilai jika Aman pada akhirnya dihukum mati, maka secara otomatis ideologi yang dianut Aman dan pengikutnya pun akan pudar.

"Ya, pasti berpengaruh, sangat berpengaruh karena selama ini JAD menjadi kelompok teroris yang terlalu taklid kepada pemimpinnya. Pemimpinnya bilang mundur, menyerah, (mereka) menyerah. Pemimpinnya bilang bunuh diri, ya bunuh diri. Jadi dia harus menerima vonis hukuman mati itu sebagai sebuah penghormatan sebenarnya buat dia," kata Al Chaidar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/5).

Al Chaidar mengatakan pergolakan di antara pengikut Aman tetap akan terjadi dalam kurun waktu tertentu. Menurut dia, sejumlah pengikut Aman tersebar di Sumatera, Aceh, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Riau, Palembang, Lampung, Jawa Timur dan Kalimantan Timur.

"Pergolakan pasti ada, tinggal kita lihat kalau pergolakan karena vonis hukuman mati akan bertahan paling satu bulan hingga dua bulan. Setelah itu idelogi akan mengalami pembusukan entropi, pembusukan ideologi kalau memang diingkari sendiri, dibantah sendiri oleh pemimpin yang membuat fatwanya sendiri," ucapnya.

Al Chaidar mengatakan pengikut Aman memahami betul jika melakukan jihad tidak boleh berdasarkan pada dendam, terlebih dendam terhadap vonis mati kepada Aman. Alasannya pahala yang mereka terima atas jihad bukan dari Tuhan melainkan dari Aman.

Sementara itu, hal berbeda disampaikan mantan narapidana terorisme dari kelompok Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas. Dia menyatakan jika Aman dihukum mati, tidak secara otomatis menghilangkan ideologi yang dianut oleh Aman dan pengikutnya.

Nasir merasa hukuman seumur hidup lebih cocok diberikan kepada Aman. Alasan pertama, hukuman seumur hidup tidak akan membuat Aman dianggap sebagai pahlawan oleh pengikutnya. Julukan pahlawan justru akan terjadi jika Aman dieksekusi regu tembak.

Lalu, Nasir mengatakan hukuman seumur hidup dapat membuat Aman berubah dan menasihati anggotanya berhenti menjalankan aksi terorisme. Kemudian juga supaya tidak muncul dendam baru di kalangan pendukungnya. Sedangkan alasan keempat adalah hukuman seumur hidup dengan cara isolasi dapat membuat Aman merasa jera.

"Semoga vonisnya bukan hukuman mati ya, seumur hidup saja," ujarnya saat ditanyai wartawan.

Nasir menyatakan salah satu cara menghapus ideologi Aman dan para pengikutnya adalah dengan deradikalisasi secara berlanjut. Deradikalisasi merupakan strategi pendekatan tanpa kekerasan yang bertujuan menetralisir paham-paham yang dianggap membahayakan.

"Jika kegiatan deradikalisasi ke Aman Abdurahman dilaksanakan berkesinambungan, hingga Aman bersedia kooperatif untuk menyadarkan pengikutnya," tuturnya.


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar