Dunia

Mantan Plt Direktur FBI Sebut Trump Agen Rusia

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat pidato kenegaraan di depan Kongres.
Loading...

GILANGNEWS.COM - Mantan pelaksana tugas Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), Andrew McCabe berasumsi bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump merupakan agen Rusia.

"Apakah Anda masih percaya bahwa Presiden Trump bisa saja seorang agen Rusia?" tanya pembawa acara CNN, Anderson Cooper, kepada McCabe dalam acara Anderson Cooper 360, Selasa (19/2).

"Saya berpikir itu mungkin saja. Saya pikir karena itulah kami membuka investigasi (soal dugaan intervensi Rusia di pemilu AS 2016), dan saya benar-benar ingin melihat bagaimana jaksa khusus Robert Mueller (yang ditunjuk FBI untuk memimpin investigasi) menyimpulkan penyelidikan itu," kata McCabe menjawab pernyataan Cooper.

McCabe juga berulang kali menyudutkan Trump selama wawancara berlangsung. Dia menuduh Trump merusak integritas lembaga penegak hukum demi keuntungan politik pribadinya sendiri.

Loading...

"Presiden ini (Trump) merusak peran penegakan hukum, merusak intelijen kami, dan berdampak negatif pada FBI, seluruh lembaga intelijen, juga mengganggu kemampuan badan intelijen dan penegak hukum untuk melindungi negara setiap hari," tuturnya seperti dikutip CNN.

Pernyataan itu diutarakan McCabe beberapa hari setelah dia mengklaim bahwa Wakil Jaksa Agung AS, Rod Rosenstein, pernah mendiskusikan rencana mendepak Trump dari Gedung Putih dengannya.

Dalam wawancaranya di acara '60 Minutes' stasiun televisi CBS, pada Minggu (17/2), McCabe menyebut Rosenstein pernah membahas rencana mengajukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS.

Wacana itu, paparnya, terjadi tak lama setelah Trump memecat Direktur FBI saat itu, James Comey, sekitar Mei 2017 lalu.

Amandemen ke-25 Konstitusi AS adalah aturan pengambilalihan kewenangan eksekutif oleh wakil presiden jika presiden dinilai tidak lagi sanggup melaksanakan tugasnya.

Undang-undang itu menetapkan presiden bisa diganti jika meninggal, mengundurkan diri, atau tidak mampu memenuhi kewajibannya.

Kemarin, McCabe juga baru meluncurkan sebuah buku berjudul "The Threat". Buku itu menggambarkan potret gamblang ketika dirinya masih menjabat di FBI dan dipimpin Trump.

Dalam bukunya, dia juga menceritakan bagaimana interaksi antara pejabat tinggi Gedung Putih dengan Kementerian Kehakiman hingga alasan pejabat AS memutuskan membuka penyelidikan kontra-intelijen dan mengganggu penyelidikan yang menyeret Trump.

Salah satu penasihat Gedung Putih, Kellyanne Conway, menganggap pernyataan McCabe "hampir tidak bermartabat dan tidak patut mendapat tanggapan."

"Dia (McCabe) adalah seorang pembohong dan seorang pembocor rahasia," ucap Conway.

McCabe mengambil alih sementara jabatan Direktur FBI ketika Trump memecat James Comey pada Mei 2017 lalu.

Kisruh pemecatan Comey sempat membuat publik AS semakin mempertanyakan integritas Trump sebagai presiden. Sebab, Presiden ke-45 AS itu memecat Comey di saat tengah fokus menyelidiki dugaan kolusi antara tim pemenangan Trump dengan Rusia, dalam pemilihan presiden 2016 lalu.

Rusia disebut-sebut mengintervensi pemilu AS dan membantu Trump untuk menang.

Dalam kesaksiannya pada 2017 lalu, Comey mengaku Trump menekannya untuk menghentikan penyelidikan. Trump juga disebut pernah memaksa Comey untuk tak menjadikan dirinya subjek penyelidikan.

Masa kepemimpinan McCabe di FBI juga tak panjang. Dia dipecat pada 2018, beberapa hari sebelum dirinya pensiun. McCabe justru diusut oleh jaksa federal Washington DC karena diduga menyesatkan penyidik FBI dalam penyelidikan dugaan penyimpangan penggunaan anggaran Yayasan Clinton.


Loading...

[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar