Baca Juga PLN UID Riau dan Kepri Lakukan Edukasi kepada Stakeholder dan Masyarakat Pekanbaru
Baca Juga PLN Buka Suara soal Tuduhan Bayar THR Tak Sesuai Aturan
Dilansir Daily Mail, Mullah Abdul Qayyum Zakir ditangkap oleh pasukan pimpinan AS setelah invasi mereka ke Afghanistan pada tahun 2001 dan ditahan di Teluk Guantanamo hingga 2007.
Dia kemudian dibebaskan setelah mengaku tidak berniat kembali ke medan perang. Namun, setelah dibebaskan, ia diyakini mengarahkan operasi militer di Helmand sebelum menjadi komandan militer umum Taliban.
Dilansir Daily Mail, Mullah Abdul Qayyum Zakir ditangkap oleh pasukan pimpinan AS setelah invasi mereka ke Afghanistan pada tahun 2001 dan ditahan di Teluk Guantanamo hingga 2007.
Dia kemudian dibebaskan setelah mengaku tidak berniat kembali ke medan perang. Namun, setelah dibebaskan, ia diyakini mengarahkan operasi militer di Helmand sebelum menjadi komandan militer umum Taliban.
Menurut situs berita Arab Alarby, Mullah Abdul Qayyum Zakir bertanggung jawab atas pasukan yang memasuki istana kepresidenan Afghanistan di Kabul awal bulan ini setelah pemerintahan resmi yang dipimpin oleh Presiden Ashraf Ghani runtuh.
Mullah Abdul Qayyum Zakir juga dikatakan sebagai penentang keras pembicaraan damai yang terjadi antara Taliban dan pemerintah Afghanistan sebelum pengambilalihan. Penunjukan Mullah Abdul Qayyum Zakir ini dinilai tidak mengejutkan.
Mantan komandan Taliban Mullah Abdul Salaam Rocketi, yang kemudian menjadi anggota parlemen Afghanistan, sebelumnya mengatakan bahwa Mullah Abdul Qayyum Zakir adalah 'komandan medan perang legendaris'.
"Ketenarannya membawanya ke perhatian Mullah Omar, dan keduanya menjadi dekat dari waktu ke waktu," tambahnya.
Mantan komandan lainnya mengatakan di CS Monitor bahwa Mullah Abdul Qayyum Zakir 'sangat berpengalaman dalam hukum syariah Islam. Dia juga telah terluka beberapa kali, termasuk di akhir 1990-an oleh bom yang juga menewaskan empat teman dekatnya.
Berita penunjukan Mullah Abdul Qayyum Zakir muncul setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengabaikan permintaan Perdana Menteri Boris Johnson dan sekutu lainnya untuk memperpanjang batas waktu evakuasi Kabul hingga melampaui 31 Agustus. Taliban memperingatkan tidak akan mentolerir penundaan keberangkatan pasukan Barat.
Boris Johnson, Emmanuel Macron dan Angela Merkel menggunakan pertemuan G7 untuk mendesak Biden agar operasi berlangsung lebih lama, tetapi permohonan itu tampaknya tidak didengar. Sumber Gedung Putih mengatakan Biden justru setuju dengan Pentagon bahwa tidak akan ada perubahan pada garis waktu misi.
Terkini
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:17:29 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:14:00 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:07:58 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:01:07 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:55:32 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:49:12 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:46:19 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:40:22 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:35:17 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:26:50 WIB