GILANGNEWS.COM - Sejak akhir Agustus lalu, lebih dari 630.000 pengungsi asal Rohingya berhasil melintasi perbatasan. Mereka kini menetap di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh. Di pengungsian, mereka membawa serta cerita tentang penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar.
Desa mereka, rumah mereka, ternak mereka, emas mereka, segala sesuatu yang mereka miliki, kini telah menjadi kenangan indah. Kenangan itu sebagian tersimpan di dalam memori ponsel mereka.
Saat Mujib Ullah, 22 tahun, sedang duduk dengan saudara perempuannya di dalam tempat penampungan yang gelap, di Kamp Pengungsi Kutupalong, dia teringat saat mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar menyerang desanya di Khularbil bersama dengan desa tetangga Borgiyabil.