
Camat Senapelan, Wira Setiadi, S.STP., MPA
GILANGNEWS.COM – Suasana menjelang Lebaran yang seharusnya penuh suka cita justru ternoda oleh ulah seorang pejabat di Pekanbaru. Camat Senapelan, Wira Setiadi, S.STP., MPA, geram mendengar kabar viral yang menyebut Lurah Kampung Baru, Asnetti Yusra, diduga meminta Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pedagang ayam geprek di kawasan bawah Jembatan Leighton.
"Terima kasih atas informasinya. Benar atau tidak, yang jelas tindakan ini sudah salah," tegas Wira dengan nada kesal saat dihubungi awak media, Jumat (22/3/2025).
Wira menegaskan bahwa setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya paham dengan aturan yang melarang meminta THR dari masyarakat. "Aturan ini sudah jelas dan disampaikan setiap tahun. Jadi, tidak ada alasan bagi ASN untuk berdalih tidak tahu," tegasnya.
BACA JUGA : Inspektorat Pekanbaru: ''Kami Akan Klarifikasi Dugaan Lurah Minta THR''
Sebagai bentuk tanggung jawab, Wira menegaskan bahwa pihaknya akan segera memanggil Asnetti untuk meminta klarifikasi. "Jika terbukti benar, akan ada proses pemeriksaan secara internal baik dari pihak kecamatan maupun Inspektorat untuk mengusut masalah ini," lanjutnya.
Menurut Wira, jika terbukti bersalah, sanksi tegas menanti Lurah tersebut. “Kami tidak main-main dalam menegakkan disiplin pegawai. Jika ini terbukti, sanksi akan dijatuhkan sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Wira menambahkan bahwa pihaknya sudah memberikan imbauan kepada seluruh ASN dan Tenaga Harian Lepas (THL) di Kecamatan Senapelan agar tidak meminta THR kepada masyarakat. Imbauan tersebut merupakan instruksi langsung dari Wali Kota Pekanbaru.
BACA JUGA : Heboh! Oknum Lurah Diduga Minta THR ke Pedagang Ayam Geprek
"Kami sudah tekankan berulang kali kepada para ASN dan THL, tidak ada alasan untuk meminta THR kepada masyarakat. Ini perbuatan yang sangat mencoreng citra pemerintahan," ujar Wira.
Ia pun menyoroti alasan Asnetti yang mengaku hanya bercanda saat meminta THR kepada pedagang. Menurut Wira, alasan tersebut tidak bisa diterima.
"Meski itu hanya gurauan, tetap tidak bisa dibenarkan. Aparatur seharusnya menjaga wibawa dan tidak bersikap seperti itu," tegas Wira dengan nada kecewa