
GILANGNEWS.COM - Ketika sampah menjadi persoalan pelik di banyak sudut Kota Pekanbaru, satu kelurahan justru tampil menginspirasi. Di Kelurahan Pebatuan, Kecamatan Kulim, semangat gotong royong membara. Warganya, bersama Lurah dan perangkat RT/RW, sepakat menjaga Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Jalan Berdikari selama 24 jam tanpa jeda. Semua demi satu cita-cita agar lingkungan bersih dan bebas dari tumpukan sampah.
Langkah luar biasa ini muncul setelah Pemerintah Kota Pekanbaru resmi memutus kontrak kerjasama pengangkutan sampah dengan PT Ella Pratama Perkasa (EPP) pada 8 Juni 2025 lalu. Saat itu, hampir seluruh TPS di kota ini penuh sesak oleh sampah yang belum terangkut. Namun warga Pebatuan tak tinggal diam. Mereka langsung turun tangan, bergotong royong membersihkan sisa-sisa sampah.
Lurah Pebatuan, Suwandi Nasution, tak ragu menginisiasi penjagaan TPS 24 jam. “Kami ingin Pebatuan bebas sampah selamanya. Meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk petugas jaga, masyarakat ikhlas menyumbang demi lingkungan bersih,” ujarnya kepada gilangnews.com, Senin (17/6).
Langkah ini bukan tanpa tantangan. Meski spanduk larangan membuang sampah sudah terpasang dan ancaman denda hingga Rp5 juta sesuai Perda Nomor 13 Tahun 2021 ditegaskan, masih ada warga yang nekat membuang sampah saat tidak ada penjaga. Karena itu, Suwandi menugaskan petugas secara bergiliran menjaga TPS setiap jam, dibantu aparat kelurahan, kecamatan, bahkan personel dari Dinas Pertanian Kota Pekanbaru.
Sutris, salah satu petugas jaga, menuturkan betapa besar tantangan di lapangan. “Sudah dijaga dari pagi sampai subuh, masih juga ada yang mau buang sampah diam-diam. Kesadaran masih rendah,” keluhnya.
Plt Camat Kulim, Fajri Adha, memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, Kelurahan Pebatuan adalah satu-satunya wilayah di Kecamatan Kulim yang menjaga TPS 24 jam penuh. “Sudah hampir sepuluh hari TPS di Jalan Berdikari dijaga tanpa henti. Setiap kami sidak mendadak, petugas selalu ada. Ini patut dicontoh oleh kelurahan lainnya,” ucap Fajri.
Fajri juga menegaskan, razia terus dilakukan terhadap warga yang masih membuang sampah sembarangan. “Sudah ada yang kita beri sanksi, bahkan dibawa ke kantor polisi. Jangan sampai nanti salahkan kami jika tertangkap tangan dan diproses sesuai hukum,” ujarnya.
Kini, kelurahan Pebatuan bukan sekadar tempat tinggal. Ia menjadi simbol harapan, bahwa di tengah berbagai persoalan sampah kota, masih ada komunitas yang memilih bertindak, bukan mengeluh. Suatu contoh bahwa perubahan dimulai dari kesadaran warga sendiri dengan semangat gotong royong dan cinta lingkungan.