Pengakuan Mengejutkan! Atlet Sepeda Riau Ngaku Uang Saku Popnas “Dibelah Semangka” oleh Pelatih

Ahad, 14 September 2025

Fitri (paling kiri) bersama rekan atlet sepeda Riau berfoto dengan pelatih Ricky Leonardo alias Edo (berbaju kuning)

GILANGNEWS.COM – Dunia olahraga Riau kembali tercoreng. Pengakuan mengejutkan datang dari seorang mantan atlet sepeda Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Riau. Ia mengungkap praktik pemotongan uang saku atlet oleh pelatih yang seharusnya menjadi pembimbing dan panutan.

Fitri, salah satu atlet sepeda yang dikirim ke ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Palembang, 22 Agustus 2023, dengan suara bergetar menceritakan bahwa ia dan tiga rekannya Imam, Habib, dan Uwan sama-sama menerima uang saku dari Dispora Riau sebesar Rp12 juta per orang. Namun, uang yang seharusnya menjadi hak penuh atlet itu tidak utuh masuk ke kantong mereka.

“Dana itu memang ditransfer ke rekening masing-masing atlet. Tapi setelah itu kartu ATM kami dikumpulkan dan kami disuruh transfer Rp6 juta ke pelatih Ricky Leonardo alias Edo. Alasannya untuk beli alat latihan di basecamp,” ungkap Fitri.

Alasan itu, kata Fitri, hanya kamuflase. Alat yang dibeli seperti cyclo, HR sensor, dan roller diperkirakan hanya seharga Rp8 juta untuk dipakai bersama. Janjinya, barang itu akan dijual kembali dan hasilnya dikembalikan kepada atlet setelah mereka tamat dari SKO. Namun, janji tinggal janji. Hingga kini uang itu tak kunjung kembali.

“Padahal uang itu cuma sekali seumur Popnas. Hanya dapat satu kali. Tapi kami dipaksa harus setor separuhnya. Kalau tidak nurut, langsung diancam suruh pulang. Bahkan saya pernah hampir dipulangkan hanya karena ketahuan makan chiki,” ucap Fitri dengan nada getir.

Lebih parah lagi, menurut pengakuannya, pemotongan tidak berhenti di sana. Atlet juga dipaksa menandatangani pencairan uang “puding” sebesar Rp30 ribu per hari atau sekitar Rp900 ribu, namun uang itu sama sekali tak pernah mereka terima.

“Cuma disuruh tanda tangan saja, uangnya masuk ke pelatih. Ada juga uang TC sebesar Rp3 juta, tapi kami tidak pernah terima. Katanya dipotong untuk uang makan. Tidak ada rincian, tidak ada transparansi,” tambah Fitri.