
GILANGNEWS.COM — Menjelang datangnya Ramadhan 1447 Hijriah, suasana persiapan pasar musiman mulai terasa di Kota Pekanbaru. Namun di balik hiruk-pikuk pedagang yang bersiap menyambut pembeli, ada kegelisahan yang mengemuka di mana harga bahan pokok yang terus merangkak naik dan menggerus keuntungan usaha kecil.
Keluhan itu mengemuka saat puluhan pedagang makanan dan jajanan se-Kecamatan Sukajadi yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Ramadhan Sukajadi menghadiri Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bersama Anggota MPR RI, Arif Eka Saputra, Minggu (8/2/2026), di Bono Hotel Pekanbaru. Forum yang semula berisi pemaparan wawasan kebangsaan berubah menjadi ruang dialog terbuka tentang denyut ekonomi rakyat di level paling bawah.
Dalam suasana santai namun serius, pedagang menyampaikan langsung kondisi yang mereka hadapi: harga beras, minyak goreng, gula, hingga bahan baku makanan lain yang terus meningkat. Lonjakan harga itu dinilai bukan hanya menekan margin keuntungan, tetapi juga mempengaruhi daya beli masyarakat yang cenderung menurun menjelang Ramadhan.
“Kalau harga bahan terus naik, kami sulit menyesuaikan harga jual. Pembeli juga keberatan. Akhirnya keuntungan makin tipis,” ujar salah seorang pedagang dalam forum tersebut.
Arif Eka Saputra menilai, sosialisasi 4 Pilar MPR RI tidak boleh berhenti pada tataran teori. Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan harus hadir menjawab persoalan nyata masyarakat, termasuk persoalan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil.
Ia menegaskan, sila kelima Pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus diterjemahkan dalam kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga dan melindungi pedagang kecil. Negara, kata dia, perlu hadir memastikan ekosistem ekonomi rakyat tetap sehat, terutama menjelang momentum Ramadhan yang biasanya meningkatkan aktivitas perdagangan.
“Nilai kebangsaan tidak bisa dipisahkan dari realitas ekonomi. Pedagang kecil adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan. Jika mereka tertekan, maka stabilitas ekonomi masyarakat juga ikut terdampak,” ujar Arif.
Ia juga mengingatkan, UUD 1945 menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Prinsip ini, menurutnya, harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan ekonomi agar berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan hanya pada pelaku usaha besar.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga bahan pokok serta memperluas akses permodalan bagi UMKM. Dukungan tersebut dinilai penting agar pedagang tetap mampu bertahan dan berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal selama Ramadhan.
Arif menambahkan, keberlangsungan aktivitas pasar rakyat juga menjadi bagian dari ketahanan ekonomi nasional. Semangat Bhinneka Tunggal Ika, kata dia, perlu diterjemahkan dalam solidaritas antar pedagang, menjaga etika usaha, serta menghindari persaingan tidak sehat di tengah kondisi yang menantang.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap nilai-nilai 4 Pilar MPR RI tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
“Ramadhan adalah momentum kebersamaan. Kita ingin pedagang tetap semangat, tetap solid, dan percaya bahwa nilai kebangsaan serta gotong royong adalah kekuatan menghadapi tantangan ekonomi,” ujarnya.