Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan
Sebelum ditangani di RS Polri, Akbar pertama kali mendapat perawatan di PS Pelni, Jakarta Barat. Di sana dia sempat menjalani operasi.
Fitri pun menggambarkan kondisi Akbar, anak kedua di keluarganya. Terdapat pembengkakan besar di kepalanya membuat Akbar susah dikenali. Bahkan terdapat bekas jahitan di mulut yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya.
Keluarga mengatakan kondisi Akbar setelah ditemukan tidak kunjung pulih hingga akhirnya meninggal.
"Jadi kepalanya besar seperti pakai helm, kayak semacam tumor kepala. Gede lebam bibirnya sampai menutupi lubang hidung saking keluarnya, jontor," kata Fitri.
"Dari (RS) Polri tanggal 30 sampai sekarang pun menurun turun terus enggak ada perkembangan," tambahnya.
Ketika diajak bicara pun Akbar tidak bisa merespons dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara di RS Polri.
"Bibirnya kayak orang mau getar gitu, mata keadaan tutup. Tangannya sempet gerak cuma [itu] responsnya di RS Polri," kata dia.
Hingga saat ini, pihak keluarga belum mengetahui secara pasti apa penyebab lebamnya wajah Akbar.
"Dokter tidak ada yang berani langsung ngomong penyebab luka wajah tersebut. Tidak ada yang bilang jatuh atau apa," jelasnya.
Fitri pun mengetahui kabar Akbar dirawat di RS Polri bukan dari pihak kepolisian. Ia mengaku mengetahuinya dari orang lain.
"Enggak, kita cari sendiri dari info sana-sini broadcast," tuturnya.
Setelah beberapa hari kritis, dokter kemudian baru menyampaikan Akbar telah meninggal dunia pada Kamis (10/10) sore. Menurut keluarga, dokter mengatakan Akbar meninggal karena ada saraf yang rusak.
"Jadi kemarin ya, dokter manggil terus. 'Nih Akbar kondisinya menurun, menurun, tensinya rendah'. Memang dari kemarin sih rendah (tensinya)," imbuhnya.
"Saraf sih, sarafnya rusak kata dokter," tambahnya.
Kendati demikian, pihak keluarga pun belum menerangkan dengan rinci serta memeriksa alasan kematian yang tertera dalam surat kematian yang dibuat dokter.
"Saya tidak tahu ya kemarin surat apa saja," jelasnya.
Akbar Alamsyah sempat hilang usai kerusuhan di Gedung MPR/DPR RI pada 25 September 2019 meninggal dunia di RSPAD, Jakarta.
Keluarga menemukan Akbar sudah dalam keadaan kritis beberapa waktu setelahnya. Ia pun akhirnya dilarikan ke RSPAS Gatot Soebroto untuk perawatan.
Terkini
Senin, 19 Januari 2026 | 21:56:28 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:49:59 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:45:50 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:42:02 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:30:29 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:25:57 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:22:00 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 21:16:16 WIB
Senin, 19 Januari 2026 | 14:46:34 WIB
Ahad, 18 Januari 2026 | 17:46:42 WIB