GILANGNEWS.COM — Jalanan Kota Pekanbaru kini seolah bukan lagi milik warga. Trotoar dan badan jalan, yang semestinya menjadi ruang publik, perlahan berubah menjadi pasar liar. Pedagang kaki lima (PKL) menyerbu hampir setiap sudut kota, memaksa pengguna jalan berdesakan, pejalan kaki terusir, dan wajah kota bertuah kian kusut.
Ironisnya, fenomena ini terjadi ketika pemerintah telah menyiapkan sejumlah lokasi resmi untuk UMKM. Namun kenyataannya, Jalan Pattimura, Ronggo Warsito, Ahmad Yani, Diponegoro, Sultan Syarif Kasim, Pasar Pagi Arengka, Arifin Ahmad, hingga simpang padat Sudirman–SM Amin, serta ruas vital Soekarno Hatta–Soebrantas, semuanya sudah dipenuhi lapak-lapak liar. Akibatnya, kemacetan kian parah, ketertiban umum runtuh, dan slogan “Smart City” hanya tinggal jargon.
Politisi Hanura, Firman SE, MSI, angkat suara lantang. Menurutnya, keberanian PKL menguasai badan jalan bukan sekadar masalah ekonomi rakyat kecil, melainkan karena ada “pelindung tak kasatmata”, dugaan praktik setoran gelap.