Nadiem Ajak Guru Lakukan Perubahan Tanpa Tunggu Perintah

Sabtu, 23 November 2019 | 15:19:31 WIB
Dalam pidato untuk peringatan Hari Guru Nasional, Nadiem menyampaikan simpati terhadap tugas berat guru dan mengajak mereka mulai melakukan perubahan kecil.

GILANGNEWS.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengajak para guru melakukan perubahan kecil tanpa menunggu perintah. Hal ini ia sampaikan lewat naskah pidato jelang Hari Guru Nasional 2019 yang diperingati tiap 25 November.

Nadiem memulai naskah pidatonya dengan meminta maaf karena pesan yang ia sampaikan berbeda dengan yang disampaikan mendikbud-mendikbud sebelumnya.

"Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi kata-kata inspiratif dan retorik. Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda," ujar Nadiem seperti dikutip dari 'Pidato Mendikbud pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional 2019' di situs Kemdikbud, Sabtu (23/11).

  • Baca Juga Terungkap! Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Diduga 2 Orang Naik Motor
  • Baca Juga Angkat Bicara! Kapolda Riau Sebut Pengamanan terhadap Masyarakat Selalu Berjalan
  • Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
  • Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan
  • Mantan bos Gojek itu menyampaikan keinginannya untuk berbicara apa adanya dan hati yang tulus kepada semua guru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

    Nadiem mengatakan, guru memiliki tugas termulia namun juga tersulit. Menurutnya, guru ditugasi membentuk masa depan bangsa tapi lebih sering diberi aturan dibandingkan pertolongan.

    Guru juga ingin membantu murid yang tertinggal di kelas, namun menurut Nadiem, waktunya habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

    "Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan," katanya.

    Nadiem juga menyoroti sikap guru yang ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

    "Anda frustrasi karena Anda tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal," ucap Nadiem.

    Nadiem juga menyatakan bahwa guru sebenarnya memahami setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, namun keseragaman mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

    Ia juga menyinggung keinginan guru agar muridnya terinspirasi namun para guru justru tak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

    "Saya tidak akan membuat janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia," tuturnya.

    Namun Nadiem menegaskan bahwa perubahan tak dapat dimulai dari atas karena semua berawal dari guru dan berakhir dari guru. "Jangan menunggu perintah, ambilah langkah pertama," katanya.

    Nadiem pun meminta para guru mulai melakukan perubahan kecil di kelas. Terdapat lima poin yang dijabarkan Nadiem, yakni mengajak kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, kemudian beri kesempatan pada murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, dan tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

    "Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukan secara serentak, kapal besar bernama Indonesia pasti akan bergerak. Selamat hari guru," ucapnya.

    Terkini