Perguruan Tinggi Bisa Mati karena Covid-19, Ini Penyebabnya

Ahad, 28 Juni 2020 | 10:41:12 WIB
Ilustrasi.

GILANGNEWS.COM - Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Djagal Wiseso menyebutkan ada prediksi matinya perguruan tinggi akibat wabah pandemi Covid-19.

Sejumlah faktor seperti sumber pendidikan selain lembaga pendidikan yang tersedia, seperti internet, buku, jurnal, serta kondisi Covid-19 yang memaksa mahasiswa untuk belajar tanpa harus hadir di kampus mendorong matinya lembaga pendidikan tinggi.

Prediksi tersebut dibahas dalam seminar daring Dewan Guru Besar (DGB) UGM pada Jumat (26/6). Seminar daring kali ini bertemakan “Merdeka Belajar dan Proses Belajar Mengajar Efektif di Masa Pandemi Covid-19”.

  • Baca Juga Terungkap! Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Diduga 2 Orang Naik Motor
  • Baca Juga Angkat Bicara! Kapolda Riau Sebut Pengamanan terhadap Masyarakat Selalu Berjalan
  • Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
  • Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan
  • Mantan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Tian Belawati sepakat dampak dari Covid-19 telah menyebabkan disrupsi yang melebihi Revolusi Industri 4.0.

    Ia menyebut tak ada satupun negara di dunia ini yang bidang pendidikannya tidak terdampak oleh pandemi ini.

    “Hanya butuh waktu 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia untuk mampu memaksa 834 perguruan tinggi di Indonesia hijrah ke daring,” ungkap Prof. Tian seperti dikutip dari laman UGM.

    Akibatnya, banyak perguruan tinggi merasa tidak siap dengan kepindahan tersebut. Para dosen tidak siap karena silabusnya disusun untuk perkuliahan tatap muka, apalagi bagi pengampu jurusan saintek yang memiliki mata kuliah praktikum.

    Selain itu, permasalahan lain karena banyaknya dosen yang telah lanjut usia dan tidak terliterasi untuk menggunakan platform digital.

    “Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam pembelajaran daring yakni kurikulum sesuai, inklusif, melibatkan pembelajar, pendekatan inovatif, metode efektif, evaluasi formatif dan sumatif, koheren, konsisten, transparan, perangkat yang mudah dioperasikan, serta efektif dalam biaya,” paparnya.

    Hal yang perlu diperhatikan lebih dalam prinsip tersebut, menurut Tian, adalah interaksi dengan pembelajar.

    Ia menyebut interaksi menjadi rawan dalam pembelajaran daring karena tanpa tatap muka secara langsung. Oleh karena itu, momen jeda semester ini dapat dimanfaatkan oleh para pengajar untuk mempersiapkan silabus yang lebih sesuai untuk pembelajaran daring.

    Terkini