Menteri Sri Mulyani Soroti Bunga Utang saat Covid-19

Kamis, 02 Juli 2020 | 10:33:15 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani.

GILANGNEWS.COM - Menteri Keuangan Sri Mulyani  menyoroti sejumlah lembaga pembiayaan atau kreditor multilateral yang memberikan  utang dengan bunga tinggi kepada negara-negara berkembang di tengah pandemi Covid-19.

Padahal, di tengah pandemi Covid-19 pembiayaan melalui pinjaman luar negeri merupakan salah satu jalan yang bisa diambil untuk mengatasi kekurangan anggaran penanganan kesehatan maupun pemulihan ekonomi.

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi virtual bertajuk Rebrithing The Global Economy to Deliver Sustainable Development yang diselenggarakan United Nation, Rabu (1/7).

  • Baca Juga Terungkap! Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Diduga 2 Orang Naik Motor
  • Baca Juga Angkat Bicara! Kapolda Riau Sebut Pengamanan terhadap Masyarakat Selalu Berjalan
  • Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
  • Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan
  • "Walaupun situasi keuangan global ditandai dengan tingkat interest rate yang sangat rendah, kadang-kadang bahkan nol, tetapi bagi banyak negara berpenghasilan rendah dan negara berkembang, ketika mereka mengakses pembiayaan global ini mereka harus membayar sedemikian harga yang sangat tinggi," ujar Ani, panggilan akrabnya.

    "Banyak negara berkembang harus menderita karena akses terbatas, serta harga yang sangat tinggi dan mereka tidak menghadapi pertumbuhan yang berada di bawah tingkat bunga yang harus mereka bayar," imbuhnya.

    Menurut dia, keadaan ini menunjukkan masih ada diskriminasi terhadap negara-negara berkembang untuk bisa mengakses pembiayaan yang murah dari lembaga multilateral.

    "Ini adalah diskriminasi, dan tidak menciptakan kesempatan yang sama bagi banyak negara untuk dapat mengejar ketinggalan, atau untuk mengatasi masalah terkait pandemik ini dengan cara modern yang disebut 'kualitas yang lebih baik"," sebut Ani.

    Meski demikian, kata Ani, bukan berarti kreditor multilateral memberikan bunga tinggi kepada negara-negara berkembang. Ia mengatakan banyak pula lembaga yang mendukung negara-negara berkembang dengan utang murah untuk biaya social safety net Covid-19.

    Hanya saja karena jumlahnya terbatas, akhirnya banyak negara harus beralih ke alternatif pembiayaan lain mulai dari pasar modal, obligasi dan sebagainya.

    "Dalam hal ini saya benar-benar ingin menyatakan penghargaan saya kepada beberapa lembaga multilateral yang merespons dengan menyediakan tidak hanya pembiayaan dan pencairan yang sangat cepat tetapi juga berfokus untuk mendukung negara-negara untuk dapat mengatasi masalah ini," pungkasnya.

    Terkini