GILANGNEWS.COM - Di tengah gegap gempita proyek strategis nasional Tol Trans Sumatra, kisah pilu datang dari Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar. Alih-alih merasakan manfaat pembangunan, warga di sana justru seperti ditampar oleh realitas pahit “habis manis, sepah dibuang”.
Jalan Pemuda merupakan akses utama warga untuk keluar masuk desa, selama puluhan tahun kini terbelah, dan dipenuhi tiang pancang beton. Jalan yang dulunya lurus, kini dibuat berliku demi menyangga jalan tol. Bahkan lebih ironis, sirtu yang dulu ditimbun sebagai akses truk pengangkut material kini justru dikorek kembali oleh kontraktor. Alasannya? Dipindahkan untuk menimbun lokasi lain.
“Sakit hati kami. Jalan yang sudah dipakai warga, sudah enak dilalui, tiba-tiba dikorek lagi. Sekarang malah banjir. Air sampai selutut,” ujar Sudarmaji, salah satu warga dengan nada getir.