GILANGNEWS.COM - Tahun 2006 silam, seorang siswi SMPN 1 Cibungbulang, Bogor, bertanya-tanya apakah taekwondo itu? Dia berjalan dalam bingung, harus memilih ekstrakurikuler apa karena setiap siswa diwajibkan memilih satu bidang.
Meski tidak tahu, siswi bernama Defia Rosmaniar itu akhirnya menjatuhkan pilihannya pada taekwondo. Alasannya simpel, supaya bisa pulang dan latihan bersama saudara sepupunya.
Siapa sangka, dua belas tahun berlalu siswi kelahiran 25 Mei 1995 itu berhasil menjuarai Asian Games, ajang multievent terbesar di Asia. Tak tanggung-tanggung dia berhasil meraih medali emas.
Emas yang diraih Defia menjadi emas pertama yang didapat Indonesia di Asian Games 2018 ini. Selain itu juga menjadi emas pertama bagi Indonesia dalam sejarah gelaran Asian Games di cabor taekwondo.
Perasaan haru, senang, bangga, semua campur aduk jadi satu di hati Defia. Tekadnya begitu kuat untuk meraih medali emas. Terlebih lagi, kali ini dia tampil di “rumah” sendiri.
“Yang aku pikirkan pas di final itu aku mikirin gimana aku selebrasi dilihat orang dan itu aku pengin nangis bahagialah karena mencapai ini dengan sempurna,” tutur Defia dengan sumringah kepada wartawan, Kamis (23/8).
Dalam babak final yang dilalui, bisikan dari pelatih nyatanya berhasil membakar semangat atlet berkerudung itu. Sang pelatih mengatakan dia percaya Defia mampu menjadi juara kali ini.
“Tetap fokus enggak usah bingung, anggap saja ini latihan,” ucap Defia menirukan pelatihnya.
Anjuran dari pelatih itu langsung diikuti oleh perempuan asli Bogor itu. Saat bersua Marjan Salahshouri dari Iran di final, dia mengeluarkan jurus-jurus yang dimilikinya.
Tak ada rasa gerogi sama sekali. Hanya rasa percaya diri yang terus mendorong Defia mengeluarkan jurus terbaiknya.
Sempat dilarang orang tua
Sebelum turun di nomor poomsae, Defia adalah atlet taekwondo nomor kyorugi alias tarung. Dua nomor tersebut adalah jenis yang sangat berbeda satu sama lain. Namun, saat menekuni nomor kyorugi Defia diserang penyakit tipes. Dia pun harus menjalani opname selama satu pekan.
Melihat kondisi Defia sang pelatih kemudian menghampiri dan menanyakan apakah dia masih mau bermain taekwondo lagi.
“Dari situ mama udah nge-cut aku. Kamu sudah berhenti. Mamah enggak mau anak mama sakit,” ucap Defia sambil mengenang pernyataan ibunya.
Defia lantas gundah gulana. Apakah dia harus berhenti dari olahraga yang kadung dia cintai, mengingat kondisinya sudah begitu lemah.
Pertolongan Tuhan kemudian menghampiri Defia. Perlahan kondisinya mulai membaik. Pelatih taekwondonya menawari Defia untuk pindah ke nomor yang lebih ringan, yaitu poomsae.
“Memang poomsae materinya lebih ringan daripada kyorugi. Aku masih bisa mengikuti itu. Jadi aku berlatih menghafal jurus-jurus Poomsae yang sulit dan agak membingungkan,” tutur Defia.