Rupiah Gagah Perkasa Menuju Rp13.800 per Dolar AS

Jumat, 01 Februari 2019 | 18:52:17 WIB
Rupiah tercatat pada posisi Rp13.948 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (1/2) sore. Rupiah menguat 0,18 dibanding kemarin.

GILANGNEWS.COM - Nilai tukar rupiah tercatat pada posisi Rp13.948 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (1/2) sore. Rupiah langsung menguat 0,18 persen dibandingkan penutupan pada Kamis (31/1), yakni Rp13.972 per dolar AS.

Kurs referensi Bank Indonesia (BI), yakni Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.978 per dolar AS atau menguat dibandingkan kemarin, yakni Rp14.072 per dolar AS.

Hari ini, hanya sedikit mata uang utama Asia yang menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Selain rupiah, ringgit Malaysia mencatat penguatan 0,27 persen yang disusul oleh dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen.

  • Baca Juga Terungkap! Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Diduga 2 Orang Naik Motor
  • Baca Juga Angkat Bicara! Kapolda Riau Sebut Pengamanan terhadap Masyarakat Selalu Berjalan
  • Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
  • Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan

  • Sementara itu, dolar Taiwan, peso Filipina, dan dolar Singapura masing-masing melemah sebesar 0,06 persen, 0,1 persen, dan 0,27 persen. Kemudian, pelemahan ini disusul oleh baht Thailand sebesar 0,32 persen, rupee India sebesar 0,37 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,57 persen.

    Sedangkan, yuan China sendiri harus menempati posisi buncit di Asia yang bergerak 0,69 persen terhadap dolar AS.

    Pelemahan ini juga berlaku bagi mata uang negara-negara maju. Poundsterling Inggris tercatat melemah 0,04 persen. Sementara rubel Rusia dan dolar Australia masing-masing melemah 0,4 persen dan 0,36 persen. Di sisi lain, euro mencatat penguatan 0,02 persen terhadap dolar AS.

    Analis pasar uang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rully Arya Wisnubroto mengatakan rupiah masih terkena imbas dari hasil rapat Bank Sentral AS, The Fed, yang cenderung dovish. Sehingga, pasar mengartikan bahwa tidak ada kenaikan lagi suku bunga acuan Fed Rate dalam tahun ini.


    "Sehingga, ini sangat baik bagi mata uang di negara-negara berkembang, seperti Indonesia," ujarnya kepada media, Jumat (1/2).

    Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi menambahkan pergerakan rupiah juga merupakan imbas dari inflasi yang cukup positif. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan Januari tercatat 0,32 persen atau melemah dari bulan sebelumnya, 0,62 persen.

    Bahkan, inflasi Januari tahun ini merupakan yang terendah sejak 2016. "Kalau data menunjukan inflasi kita stabil, ada peluang rupiahnya lanjut menguat. Karena biasanya kondisi domestik bisa jadi katalis penggerak utama," tandas Dini.

    Terkini