Ketegangan AS-China Akan Mendominasi KTT Asia Tenggara

Rabu, 09 September 2020 | 16:07:20 WIB
Ilustrasi.

GILANGNEWS.COM - Pelaksanaan KTT Asia Tenggara terjadi hanya beberapa hari setelah Cina meluncurkan rudal balistik di tengah ketegangan Washington dan Beijing atas berbagai masalah, mulai dari perdagangan, virus corona hingga kebijakan Cina di Hong Kong terkait pemberlakukan undang-undang keamanan nasional.

Diplomat senior Washington siap membidik Cina dengan isu intimidasi Beijing di Laut Cina Selatan.

"Persaingan kekuasaan" antara AS dan Cina kemungkinan akan mencuri perhatian, kata seorang diplomat senior Asia Tenggara, yang enggan menyebut nama, kepada kantor berita AFP.

  • Baca Juga Warga Apresiasi Respons Cepat PLN Tingkatkan Kualitas Layanan Kelistrikan di Harapan Jaya Pekanbaru
  • Baca Juga Mulai Juni 2025, Pemerintah Berikan Diskon Listrik 50% untuk Pelanggan Tertentu
  • Baca Juga PLN UID Riau dan Kepri Lakukan Edukasi kepada Stakeholder dan Masyarakat Pekanbaru
  • Baca Juga PLN Buka Suara soal Tuduhan Bayar THR Tak Sesuai Aturan
  • "Amerika Serikat dan Cina kemungkinan akan menggunakan pertemuan itu sebagai platform untuk saling melempar segalanya," katanya.

    Negara-negara kecil akan "berkomentar kalimat biasa" dan kemudian berlindung saat Washington dan Beijing bertempur, tambahnya.

    Para menteri akan bergabung dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan mitranya dari Cina Wang Yi dalam KTT pertama mereka, sejak AS mengumumkan sanksi terhadap perusahaan Cina atas pembangunan pulau-pulau buatan Beijing di perairan yang disengketakan.

    "Partai Komunis Cina terlibat dalam pola yang jelas dan intensif untuk menindas tetangganya," kata Pompeo menjelang KTT.

    Ada juga kekhawatiran bahwa virus itu mungkin telah memberikan perlindungan bagi Cina untuk membuat permainan baru di Laut Cina Selatan.

    Zachary Abuza, seorang pakar politik Asia Tenggara di National War College di Washington, mengatakan tidak mungkin ada banyak kemajuan dalam pembicaraan mengenai perairan yang disengketakan tersebut.

    "Cina telah secara efektif menggunakan isu COVID-19 dan janji vaksin, dan uji klinis vaksin di Filipina dan Indonesia untuk benar-benar mencoba menghentikan momentum diplomatik ke arah diskusi tentang Laut Cina Selatan," katanya.

    Laut Cina Selatan yang kaya sumber daya diklaim secara keseluruhan oleh Beijing yang juga diperebutkan oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan.

    Pertengkaran baru antara Cina dan Filipina atas Scarborough Shoal, salah satu tempat penangkapan ikan terkaya di kawasan itu, juga menghiasi perundingan tersebut.

    Pandemi virus corona juga akan menjadi topik utama dalam diskusi online itu, setelah Vietnam sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara saat ini, memperingatkan pada pertemuan pada bulan Juni lalu bahwa dampak dari virus telah menyapu keuntungan ekonomi selama bertahun-tahun di seluruh wilayah Asia Tenggara.

    Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengatakan dalam sambutan pembukaan bahwa "orang dan perusahaan menderita kerugian besar" dan "lingkungan geopolitik, ekonomi regional, termasuk Laut Timur (Laut Cina Selatan), mengalami beberapa pergolakan, mempengaruhi perdamaian dan stabilitas".

    Ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea juga akan menjadi agenda utama. Pembicaraan antara Pyongyang dan Washington terkait persenjataan nuklir Korea Utara saat KTT Hanoi tahun lalu, momen ketika Kim Jong Un dan Donald Trump bertemu, sekarang terhenti.

    Terkini

    Harga CPO Riau Awal 2026 Fluktuatif namun Cenderung Menguat

    Selasa, 13 Januari 2026 | 20:49:12 WIB