Joe Biden Perintahkan Serang ISIS Cabang Afghanistan Setelah Teror Bom di Kabul

Jumat, 27 Agustus 2021 | 14:31:51 WIB
Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden AS.

GILANGNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, memerintahkan rencana penyerangan ISIS cabang Afghanistan atau yang dikenal sebagai ISIS Khurasan (ISIS-K). Kelompok teroris ini mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di gerbang bandara Kabul, Afghanistan, pada Kamis.

Serangan bom bunuh diri ini menewaskan sedikitnya 73 orang; 13 pasukan AS dan 60 orang warga Afghanistan. Serangan terjadi di tengah upaya evakuasi warga negara AS dan warga Afghanistan yang melarikan diri dari negara tersebut.

Sesaat setelah serangan, ISIS-K menyatakan bertanggung jawab bahwa bom bunuh diri itu dilakukan anggota militannya. Namun ISIS-K tidak menyertakan bukti yang membenarkan klaimnya tersebut.

  • Baca Juga Menjaga Terangnya Idulfitri, PLN UID Riau dan Kepri Siaga Amankan Pasokan Listrik
  • Baca Juga Wako Agung Nugroho Minta Tambahan SPKLU di Pekanbaru
  • Baca Juga Warga Apresiasi Respons Cepat PLN Tingkatkan Kualitas Layanan Kelistrikan di Harapan Jaya Pekanbaru
  • Baca Juga Mulai Juni 2025, Pemerintah Berikan Diskon Listrik 50% untuk Pelanggan Tertentu
  • Pada Kamis, Biden menyampaikan dia telah memerintahkan para komandan militer untuk membuat rencana operasional untuk menyerang ISIS-K baik aset, pemimpin, dan fasilitasnya.

    “Kami akan merespons dengan kekuatan dan sesuai waktunya, pada tempat yang kami pilih dengan cara yang kami pilih,” ujar Biden, dikutip dari CNN, Jumat (27/8).

    Namun Biden menolak menyebutkan kapan waktu spesifik tersebut.

    “Teroris ISIS ini tidak akan menang. Kami akan menyelamatkan orang Amerika. Kami akan membawa keluar sekutu Afghanistan kami. Dan misi kami akan berlanjut,” jelasnya.

    “Amerika tidak akan terintimidasi,” lanjutnya.

    Terlepas dari serangan mematikan tersebut, AS akan tetap melanjutkan upaya evakuasi, mengejar tenggat waktu sampai 31 Agustus mendatang. Sejumlah negara seperti Inggris juga memutuskan untuk tetap melanjutkan evakuasi warga negaranya dari Afghanistan.

    Terkini