WHO Rekomendasikan Booster untuk Penerima Sinovac, Ini Kata Kemenkes

Sabtu, 11 Desember 2021 | 17:01:00 WIB
Ilustrasi.

GILANGNEWS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dengan gangguan kekebalan atau penerima vaksin Covid-19 dengan platform inactivated virus atau virus dilemahkan segera menerima booster. Saat ini, vaksin yang menggunakan platform inactivated virus ialah Sinovac dan Sinopharm asal China.

Kementerian Kesehatan menanggapi rekomendasi tersebut. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah telah merencanakan vaksinasi booster bagi orang dengan gangguan kekebalan seperti lansia pada awal 2022.

"Untuk booster lansia di awal tahun depan mulai vaksinasi," katanya kepada merdeka.com, Sabtu (11/12).

  • Baca Juga Terungkap! Pelaku Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Diduga 2 Orang Naik Motor
  • Baca Juga Angkat Bicara! Kapolda Riau Sebut Pengamanan terhadap Masyarakat Selalu Berjalan
  • Baca Juga Breaking News! Bom Makassar, Walikota Ungkap Tak Ada Korban di Dalam Gereja Katedral
  • Baca Juga Sadis! Bom Bunuh Diri Terjadi di Gereja Katedral Makassar, Potongan Tubuh Berserakan
  • Menurut Nadia, vaksinasi booster ini tidak hanya diberikan pada lansia yang menerima vaksin Sinovac dan Sinopharm. Melainkan untuk semua lansia yang telah menerima vaksin dosis pertama dan kedua.

    "Bukan hanya untuk penerima vaksin dengan platform yang jenisnya virus dimatikan atau dilemahkan, tapi semua jenis vaksin yang diterima oleh lansia," jelasnya.

    Meski sudah menjadwalkan vaksinasi booster bagi lansia, Kementerian Kesehatan belum menerbitkan teknisnya. Nadia menyebut, mekanisme vaksinasi booster ini masih difinalisasi.

    "Teknisnya masih akan di finalisasi," ucap Nadia.

    Mengutip Reuters, Sabtu (11/12), rekomendasi WHO soal booster ini setelah Kelompok Ahli Penasihat Strategis pada Imunisasi (SAGE) mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi vaksin booster Covid-19.

    Ketua SAGE Alejandro Cravioto mengatakan, vaksin memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah, setidaknya selama enam bulan. Namun, data menunjukkan kekebalan berkurang terhadap orang dewasa yang lebih tua dengan penyakit parah, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan.

    "Kami mendukung pemerataan distribusi (vaksin) dan penggunaan dosis ketiga hanya pada mereka yang bermasalah kesehatan atau orang yang menerima vaksin inaktif," katanya.

    Terkini