Kasus HIV/AIDS di Pekanbaru Capai 320, Pemko Minta Penanganan Lebih Serius

Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:46:41 WIB
Walikota Pekanbaru Agung Nugroho

GILANGNEWS.COM - Wali Kota (Wako) Pekanbaru, Agung Nugroho meminta Dinas Kesehatan (Diskes) setempat berkolaborasi dengan para camat dan lurah untuk menangani kasus HIV/AIDS.

Ia menyampaikan, kolaborasi diperlukan lantaran dari laporan Diskes banyak di antara penderita HIV/AIDS yang tidak melakukan pengambilan obat di fasilitas-fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.

"Kondisi hari ini dilaporkan Dinas Kesehatan bahwa dari 100 persen yang terdata terjangkit, yang mengambil obat hanya 50 persen saja. Artinya, ini akan menjadi seperti gunung es yang sewaktu-waktu akan bisa meledak," tegas Wako Agung, Kamis (28/8/2025).

  • Baca Juga BPJS Ketenagakerjaan Tambah Peserta Pekerja Informal
  • Baca Juga Kini BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Program Jaminan Pensiun.
  • Baca Juga Biaya Kecelakaan Kerja bagi yang ikut Program BPJS diTanggung 100 %
  • "Makanya perlu adanya koordinasi dan juga kolaborasi antara camat dan lurah bersama OPD terkait," ulasnya.

    Sementara itu berdasarkan data yang disampaikan Sekretaris Diskes Pekanbaru Fira Septiyanti, di 2025 ini dari Januari hingga Juni sudah tercatat sebanyak 264 kasus HIV dan AIDS 56 kasus.

    "Kasus ini menurun jika dibandingkan tahun 2024 lalu yang mana untuk HIV 438 kasus dan AIDS 165 kasus," urainya, pada rapat koordinasi yang dipimpin Walikota Agung, bertempat di aula Mal Pelayanan Publik (MPP) DPM-PTSP, Rabu (27/8/2025).

    Kemudian dari 320 kasus HIV/AIDS di 2025, sebanyak 6 penderita di antaranya meninggal dunia. "Ada 6 orang tahun ini HIV-AIDS yang meninggal," ungkap Fira.

    Ia menjelaskan, sebagian besar dari penderita HIV/AIDS merupakan laki-laki dengan usia produktif 25 sampai 49 tahun.

    "Untuk pekerjaan terbanyak (penderita HIV/AIDS) swasta dan wiraswasta," papar Fira.

    Disampaikannya juga bahwa sebagian besar dari penderita HIV/AIDS tidak serius menjalani perawatan. Hal itu dibuktikan sekitar 50 persen penderita tidak melakukan pengambilan obat.

    "Ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) besar kita," pungkasnya.

    Terkini