GILANGNEWS.COM - Inflasi di Provinsi Riau mencapai 4,95 persen pada Oktober 2025. Bahkan pada September sebulan sebelumnya, inflasi di Riau lebih tinggi dari hingga menyentuh angka 5,08 persen secara year on year.
Berdasarkan data dari BPS, secara month to month inflasi Riau pada Oktober lalu turun atau minus 0,06 persen. Sedangkan inflasi year to date atau sejak awal tahun 2025 hingga akhir Oktober mencapai 3,85 persen.
Dari data tersebut, inflasi di Riau telah melebihi target nasional yakni 3,5 persen. Hal mendasar yang mengakibatkan inflasi di Riau adalah komoditas pangan.
Baca Juga BPJS Ketenagakerjaan Tambah Peserta Pekerja Informal
Baca Juga Kini BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Program Jaminan Pensiun.
Baca Juga Biaya Kecelakaan Kerja bagi yang ikut Program BPJS diTanggung 100 %
Salah satu penyebab inflasi di Riau adalah cabai merah dan beras. Di Riau harga cabai merah sekarang sudah mulai turun ke Rp75 ribu per Kg. Namun sebelumnya, harga cabai merah tembus Rp90 ribu hingga Rp100 ribu.
Untuk mengantisipasi inflasi tersebut, Anggota DPRD Riau menyarankan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memanfaatkan lahan tidur sebagai lahan pangan baru.
Menurutnya, Pemprov Riau harus konsen untuk mengatasi inflasi ini dengan serius memanfaatkan lahan-lahan tidur, baik di pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
"Lahan-lahan tidur itu masih banyak, bisa kita seriuskan pemanfaatannya, termasuk menggunakan dana-dana CSR ketahanan pangan. Kalau kita hari ini baru menyuplai 25 persen cabai dan beras untuk kebutuhan Riau. Artinya, 75 persen kita masih sangat tergantung dengan produksi dari Sumbar, Sumut, dan provinsi lain," sebutnya, Senin (24/11/2025).
Ketika suplai dari provinsi tetangga terganggu, kata Abdullah, maka akan sangat rawan sekali terjadi kenaikan harga. Apalagi dalam menyambut tahun Natal, tahun baru serta Ramadhan dan Idul Fitri.
"Pemprov harus serius, dan pemerintah kabupaten/kota, mengatasi ini dengan cara memanfaatkan lahan tidur ini mesti diisi ditanami. Kalau APBD enggak cukup, CSR kita maksimalkan ke sana. Supaya produksi kita jangan 25 persen lagi, tapi harusnya produksi dari Riau itu paling tidak bisa 50 persen untuk menyuplai kebutuhan masyarakat Riau," jelasnya.
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Riau itu mengatakan, Pemprov Riau tidak bisa bergantung terus minyak dan gas (Migas). Pasalnya, produksi minyak dan gas terus menurun dari tahun ke tahun.
"Dulu kita pernah produksi 1 juta barel per day, sekarang hanya 170 ribuan hingga 178 ribuan, dari PHR hanya 155.000 barel per day, trennya terus turun," ucapnya.
Oleh sebab itu, lanjut Abdullah, Riau harus mencoba bergeser perhatian kita ke ketahanan pangan dan energi baru terbarukan. Bagaimana menciptakan energi non-fosil yang potensinya sangat besar setelah dianalisa.
Terkini
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:17:29 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:14:00 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:07:58 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:01:07 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:55:32 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:49:12 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:46:19 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:40:22 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:35:17 WIB
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:26:50 WIB