GILANGNEWS.COM - Dua kasus pengeboman di Surabaya melibatkan satu keluarga. Dita Oeprianto (48) dan Tri Murtiono (50), pelaku pengeboman 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya mengajak istri dan anak-anaknya turut serta dalam aksi bunuh diri tersebut. Kisah anak-anak Dita para bomber ini mengenaskan, tak disekolahkan, didoktrin di rumah, hingga akhirnya disabuki bom pipa.
Meski tak merinci anak yang mana, namun polisi mengungkap bahwa anak-anak para teroris ini tak disekolahkan. Tujuannya untuk menghindari interaksi dengan lingkungan dan demi penanaman doktrin.
Pelaku pengeboman, kata polisi, selalu menjawab bahwa anaknya menjalani sekolah rumah (homeschooling) saat ditanya oleh orang lain. Para anak-anakjuga diarahkan orang tuanya untuk menyatakan mereka menjalani homeschooling bila ada orang lain yang menanyakan soal pendidikannya.