LEGISLATOR

Zulkardi Geram Minta Copot Plt Direktur RSD Madani Sekarang

Anggota DPRD Pekanbaru Zulkardi

GILANGNEWS.COM – Mata Kenny Rosman berkaca-kaca saat menceritakan kejadian yang menimpa dirinya di Rumah Sakit Daerah (RSD) Madani Pekanbaru. Pria muda asal Jalan Pisang, Limbungan, Rumbai Timur, itu merasa tak berdaya saat membutuhkan pertolongan medis, namun justru dihadapkan pada kenyataan pahit yakni penolakan dan pengabaian.

Selasa pagi itu, Kenny datang ke RSD Madani dengan tangan yang patah akibat kecelakaan kecil. Ia berharap pelayanan cepat, mengingat RSD Madani adalah rumah sakit pemerintah yang dilengkapi fasilitas medis modern. Berbekal program Universal Health Coverage (UHC), ia yakin bisa mendapatkan perawatan yang layak tanpa khawatir soal biaya.

Namun, harapannya pupus. Pihak rumah sakit menyatakan Kenny harus terlebih dahulu dirawat di puskesmas sebelum dirujuk ke RSD Madani, meski kondisinya mendesak. “Saya sempat bingung, bagaimana bisa pasien patah tulang disuruh ke puskesmas dulu?” tutur Kenny dengan suara bergetar.

Pertolongan yang Tertunda

Setelah keluarganya menghubungi Dinas Kesehatan Pekanbaru, barulah Kenny diterima untuk menjalani pemeriksaan awal. Prosedur rontgen dilakukan, dan ia diminta menunggu dokter spesialis ortopedi. Namun, kabar mengejutkan datang, dokter spesialis sedang cuti, dan pihak rumah sakit menyarankan Kenny untuk mencari penanganan di tempat lain.

Terus kami di arahankan ke dokter umum oleh pelayanan rumah sakit kami tungu sampai sore akhirnya kami disuruh ke rumah sakit lain saja untuk penanganan selanjutnya. Ini memilukan, kenapa kami dibuat seperti ini," cerita Kenny.

Reaksi DPRD: Pelayanan RSD Madani Dinilai Memalukan

Peristiwa ini memancing reaksi keras dari DPRD Pekanbaru. Zulkardi, anggota DPRD dari dapil Rumbai, mengungkapkan keprihatinannya atas buruknya pelayanan di RSD Madani. 

Ia menyebutkan, kasus Kenny bukan yang pertama. Sebelumnya, pada Desember 2024, seorang pasien bernama Lolya meninggal dunia akibat lambannya proses rujukan.

“Ini sudah keterlaluan. RSD Madani seharusnya menjadi contoh pelayanan terbaik, bukan sebaliknya. Terlebih ini menyangkut program UHC yang diperuntukkan bagi masyarakat luas, bukan hanya kalangan tertentu,” ujar Zulkardi tegas.

Ia menambahkan, buruknya pelayanan di RSD Madani mencerminkan manajemen yang tidak kompeten. “Masyarakat butuh solusi, bukan masalah tambahan. 

Kalau sudah berkali-kali seperti ini, apa lagi yang kita tunggu? Kami minta Plt Direktur RSD Madani segera dicopot,” desaknya.

Harapan di Tengah Kecewa

Kasus Kenny dan lainnya menyisakan luka bagi masyarakat Pekanbaru. Bagi warga seperti Kenny, pelayanan kesehatan adalah hak dasar yang tidak boleh diabaikan. 

“Saya hanya berharap, tidak ada lagi orang seperti saya yang harus melalui ini. Sakitnya sudah cukup di tubuh, jangan ditambah di hati,” tutup Kenny lirih.

Kini, semua mata tertuju pada Pj Wali Kota Pekanbaru, Roni Rakhmat. Akankah ada tindakan nyata untuk memperbaiki pelayanan kesehatan di RSD Madani, atau kasus seperti Kenny akan terus terulang?

Di balik duka ini, ada harapan semoga suara Kenny menjadi pemantik perubahan bagi pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi di Kota Bertuah.


Tulis Komentar