OPINI

Diplomasi Ambalat dan Peluang Pendekatan Kultural

Oleh: Nazwar, S.Fil.I., M.Phil.?

Penerasi Jogja Sumatera

Dalam panggung diplomasi yang kerap bersifat dingin namun strategis, sengketa Ambalat bukan sekadar persoalan batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. Lebih jauh dari itu, Ambalat bisa dilihat sebagai panggung uji kepiawaian kedua negara dalam merawat hubungan serumpun. Di balik konflik ini, tersembunyi juga peluang besar, bagaimana pendekatan budaya bisa memainkan peran dalam memperkuat posisi diplomatik Indonesia.

Selama ini, pendekatan Indonesia terhadap isu-isu perbatasan cenderung formal, legalistik, dan teknokratis. Meskipun penting, pendekatan ini kerap terasa kaku, terutama ketika berhadapan dengan negara yang memiliki ikatan sejarah dan budaya yang kuat dengan sebagian masyarakat Indonesia sendiri, seperti Malaysia. Di wilayah-wilayah strategis seperti Sumatera, Kalimantan, dan Kepulauan Riau, masyarakat Indonesia memiliki kedekatan kultural yang erat dengan masyarakat di Malaysia dalam bahasa, adat, dan sejarah.

Kedekatan ini semestinya bisa menjadi kekuatan diplomasi tersendiri. Namun, sering kali unsur budaya tidak mendapat tempat yang layak dalam perumusan strategi politik luar negeri Indonesia. Ini menjadi kelemahan yang perlu segera diatasi.

Lebih dari Sekadar Sengketa
Alih-alih hanya dilihat sebagai ancaman atau ajang unjuk kekuatan militer, Ambalat dapat dimaknai sebagai cermin relasi kultural yang belum selesai. Jika dikelola dengan pendekatan yang bijak, sengketa ini justru bisa menjadi jembatan untuk memperkuat relasi Indonesia-Malaysia secara menyeluruh, baik dalam aspek politik, ekonomi, maupun sosial-budaya.

Kita juga perlu rendah hati untuk belajar. Malaysia telah membangun infrastruktur diplomatiknya dengan cermat. Dalam banyak hal, negeri jiran itu lebih dahulu menata relasi internasional secara efisien, mulai dari sistem hukum laut hingga kerja sama kawasan. Dalam konteks ini, Indonesia sepatutnya memanfaatkan momentum Ambalat bukan untuk menunjukkan superioritas, melainkan untuk memperkuat posisi diplomatik melalui dialog dan pendekatan lintas budaya.

Sayangnya, dalam wacana publik, isu-isu seperti Ambalat sering direspons dengan emosi berlebih, dibalut narasi nasionalisme yang kerap tidak diiringi dengan strategi yang matang. Ini berisiko memperkeruh suasana dan menghambat terciptanya solusi yang konstruktif.

Merumuskan Model Diplomasi Baru
Diplomasi berbasis budaya atau pendekatan kultural sebenarnya bukan hal baru. Banyak negara mempraktikkannya untuk membangun kedekatan dan mengurangi ketegangan. Indonesia, dengan keragaman budayanya, seharusnya mampu mengembangkan pendekatan serupa bukan hanya dengan negara sahabat, tetapi juga sebagai kekuatan dalam menyusun kebijakan luar negeri.

Bayangkan jika dalam setiap perundingan penting, diplomat Indonesia tak hanya dibekali dengan keahlian hukum internasional, tetapi juga dengan pemahaman sosiokultural yang mendalam mengenai kawasan atau negara yang menjadi mitra dialog. Ini akan menjadikan posisi Indonesia lebih luwes, membumi, dan mudah diterima secara emosional.

Ambalat bisa menjadi titik tolak untuk merumuskan ulang cara kita memandang diplomasi. Kita tidak perlu memaksakan pertarungan pengaruh atau superioritas dalam wilayah budaya yang seharusnya menjadi ruang dialog. Justru, kita perlu merawat kebersamaan di antara bangsa serumpun dengan bijaksana.

Menang tanpa Merendahkan
Dunia tengah menyaksikan bagaimana Indonesia merespons isu ini. Apakah kita akan menyelesaikannya dengan kepala dingin dan sikap terbuka, atau justru terjebak dalam gelombang emosi sesaat yang bisa mencoreng citra kebangsaan kita sendiri?

Jika kita berhasil mengelola isu Ambalat dengan pendekatan yang berimbang dan konstruktif, kita bukan hanya menciptakan solusi atas sengketa batas laut. Kita juga mengirimkan pesan kuat ke dunia: bahwa di antara bangsa-bangsa serumpun, kemenangan sejati bukan milik yang paling keras, tetapi mereka yang paling bijaksana dalam bertindak.


Tulis Komentar