Husnul mengaku bahwa dirinya suka sepak bola jauh sebelum mencintai Juventus. Hal itu tak lepas dari hobinya sewaktu masih bersekolah dasar.
"Saya itu tomboi. Sewaktu SD saja hobinya bermain sepak bola bersama teman-teman laki-laki. Teman saya sampai saat ini lebih banyak laki-laki daripada perempuan," ucapnya berseloroh.
Hobi sepak bola Husnul itu terbawa sampai saat ini. Kendati berstatus wali kelas, dia beberapa kali dilibatkan dalam kegiatan olahraga di SD tempatnya mengajar.
"Saya tuh sepak bola bisa, futsal bisa, (bola) voli bisa, sepak takraw juga bisa. Beberapa kali saya mendampingi tim sekolah dalam perlombaan futsal. Alhamdulillah, beberapa berujung piala," tuturnya.
Sebagai seorang guru honorer, Husnul mengaku, pendapatannya jauh dari kata cukup. Namun, dia punya usaha sampingan untuk menutupi kebutuhan hidupnya.
"Saya usaha kecil-kecilan dengan berjualan di online shop. Alhamdulillah," tutur penyuka kegiatan bertualang ini.
Kendati demikian, Husnul juga sadar bahwa dengan pemasukan yang didapatnya itu, butuh waktu lama bagi dia agar bisa mewujudkan impian untuk datang ke Turin langsung dan menyaksikan Juventus bertanding.
"Untuk pergi ke sana, kemarin saya lihat harga paketnya mencapai sekian juta," kata dia menyebutkan angka.
Melihat harga paket itu dan dibagi dengan honor gaji per bulan, Husnul harus menabung hingga 70 bulan.
"Prioritas saya pertama tentu naik haji, setelah itu baru menonton Juventus langsung di Turin. Namun, rezeki orang hanya Allah yang tahu," kata dia saat ditanya soal prioritasnya dalam menabung.
Husnul memang enggan besar kepala atau berangan terlalu jauh. Namun, dia selalu mendapat dukungan positif dari orang di sekelilingnya.
"Kepala sekolah saya memberi wejangan. Beliau meminta saya tetap 'menunduk'. 'Dengan Anda menjadi viral, semoga membawa dampak positif bagi sekolah'," kata Husnul menirukan ucapan Kepala SD Kretek 04, Nurlaeli.
"Dia ikut bangga anak buahnya bisa sampai mendunia," tuturnya lagi.
Hanya, popularitas yang meningkat itu juga punya dampak tak enak bagi Husnul. Kini, sejumlah akun dengan nama hampir mirip dengannya berseliweran di Instagram.
"Saya sempat bingung karena takut disalahgunakan, apalagi saya pakai untuk online shop," kata Husnul.
"Akun asli saya adalah @donnautypaulodybala1897 Mas.... Yang lain, bukan akun saya," kata dia.
Satu mimpi kecil Husnul memang sudah terpenuhi. Sang pemain idola, Dybala, sudah "mengakui" eksistensinya. Bisa saja, pemain asal Argentina itu mengirim undangan langsung kepada Husnul untuk datang ke Turin.
"Saya mendapat nasihat bagus dari seorang teman. Dia mengatakan bahwa kita tak boleh takut untuk bermimpi karena jika berusaha dan berdoa, insya Allah mimpi itu akan terwujud," ucapnya.
Tulis Komentar