GILANGNEWS.COM – Polemik seleksi atlet balap sepeda menuju Popnas Jakarta akhirnya menemukan titik terang. Setelah berbulan -bulan menuai kegaduhan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau akhirnya menyatakan sejalan dengan langkah tegas Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Riau dengan memecat dua pelatih, Ricky Leonardo alias Edo dan Arif Rahman.
Keputusan ini lahir setelah pertemuan klarifikasi pada Selasa lalu. Sekretaris ISSI Riau, Muslim Hadi, dengan gamblang membeberkan kronologis kisruh seleksi yang selama ini dianggap penuh kejanggalan.
“Kami bersyukur Dispora akhirnya memahami kronologis yang terjadi. Intinya, langkah organisasi memberi sanksi pelatih adalah bagian dari menjaga marwah ISSI sekaligus melindungi atlet,” tegas Muslim.
Kisruh bermula dari seleksi satu kuota atlet Popnas yang diikuti tiga atlet yakni Rio, Fahim, dan Evan. Indikator penilaian yang semula disepakati, tiba-tiba berubah sesuai keputusan tim pelatih.
Merasa ada potensi kecurangan, ISSI Riau memutuskan melakukan seleksi ulang dengan indikator baku yang transparan. Hasilnya jelas Evan keluar sebagai pemenang. Namun tak lama, pelatih kembali membuat aturan baru berupa sistem degradasi dan langkah kontroversial yang menimbulkan pertanyaan besar, sebab nama atlet sebelumnya sudah final.
“Bagi kami, aturan yang berubah-ubah itu bentuk diskriminasi yang merugikan atlet. Maka ISSI harus turun tangan agar seleksi berjalan objektif,” ujar Muslim dengan nada tegas.
Masalah semakin runyam ketika publik kembali diingatkan pada kasus lama Ricky Leonardo terbukti memotong uang saku atlet Popnas 2023 dengan dalih membeli perlengkapan latihan. Padahal, uang itu adalah hak penuh atlet.
“Ini bukan sekadar masalah teknis seleksi, tapi sudah menyangkut integritas. Atlet jangan dijadikan korban demi kepentingan segelintir orang,” kata Muslim lagi.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Riau, Amir Azan, sempat mengeluarkan surat resmi yang menunjuk kembali Ricky Leonardo dan Arif Rahman sebagai pelatih TC 2025.
Keputusan itu sempat memicu amarah ISSI Riau, yang menilai keduanya sudah cacat integritas.
Namun setelah mendengar langsung klarifikasi ISSI, Dispora akhirnya melunak.
“Kita menghargai surat ISSI dan sudah bertemu langsung. Bagi kami, yang penting ke depan adalah menjaga integritas seleksi dan perlindungan hak atlet. Persoalan pemotongan uang itu bukan di bidang kami, tapi kami pahami langkah ISSI,” ujar Amir.
Kesepakatan Dispora dan ISSI memecat dua pelatih bermasalah ini menjadi bukti bahwa atlet tidak boleh lagi diperlakukan sebagai korban. Polemik aturan yang berubah-ubah, diskriminasi, hingga praktik pemotongan uang saku adalah wajah buram olahraga daerah.
Tulis Komentar