RIAU

Pro-Kontra Pemotongan TPP ASN Riau: Efisiensi atau Mengorbankan Pegawai?

A.Z. Fachri Yasin

GILANGNEWS.COM - Kebijakan pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang direncanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menimbulkan pro dan kontra di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk menuntaskan persoalan tunda bayar yang kini mencapai Rp2,2 triliun.

A.Z. Fachri Yasin, tokoh masyarakat Riau yang juga mantan akademisi, menilai langkah pemotongan TPP ASN merupakan bagian dari upaya efisiensi yang perlu dilakukan untuk mengendalikan kondisi keuangan daerah. Menurut Fachri, pemotongan ini hanya akan menyasar TPP, sementara gaji ASN tetap utuh karena merupakan hak yang tidak bisa diganggu gugat.

“Yang dipotong hanya TPP saja, namun tidak mungkin sampai menjadi nol. Harus ada persentase pemotongan yang terukur agar tidak menimbulkan dampak besar bagi ASN,” ujar Fachri.

Lebih lanjut, Fachri menegaskan pentingnya ASN memahami kondisi keuangan daerah saat ini. Ia mengingatkan bahwa jika TPP tidak dipotong tahun ini, dampaknya bisa berlanjut hingga empat tahun ke depan. Fachri meyakini bahwa keputusan Gubernur Riau Abdul Wahid dalam menuntaskan persoalan tunda bayar hingga 2025 adalah langkah tepat.

Selain pemotongan TPP, Fachri menyoroti perlunya upaya lain, seperti mengupayakan dana tambahan dari pemerintah pusat. Menurutnya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus lebih aktif dalam merancang program strategis agar mendapatkan kucuran dana dari pusat.

“APBD Riau hari ini tidak lagi cukup untuk menopang pembangunan. Oleh karena itu, OPD yang andal sangat dibutuhkan agar bisa menarik anggaran pusat ke daerah,” tegas Fachri.

Di sisi lain, seorang ASN yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya terkait pemotongan TPP. Menurutnya, banyak ASN yang mengandalkan TPP untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi sebagian besar gaji mereka sudah terpotong untuk pinjaman.

“Kasihan ASN kalau TPP dipotong terlalu besar. Ini yang sangat diharapkan mereka saat ini karena banyak dari mereka yang gajinya sudah habis dipotong untuk cicilan,” ungkap ASN tersebut.

ASN tersebut juga menyoroti fenomena banyaknya ASN kabupaten/kota yang pindah ke Pemprov Riau karena TPP di tingkat provinsi dinilai lebih besar dan cukup fantastis dibandingkan dengan daerah lain.

Gubernur Riau Abdul Wahid sebelumnya mengumumkan bahwa pemotongan TPP ASN merupakan langkah strategis untuk mengatasi masalah keuangan daerah. Menurutnya, kondisi riil APBD Riau hanya mencapai Rp8 triliun, sementara belanja pegawai sudah menyentuh angka Rp4 triliun.

“Kalau kerja tidak ada, tapi gajinya besar, lalu apa yang mereka kerjakan? TPP itu bukan gaji pokok, tapi tambahan beban kerja. Sementara, belanja pegawai kita sudah melampaui batas yang seharusnya hanya 30 persen dari APBD, namun saat ini mencapai 38 persen. Jika ditambah PPPK, bisa lebih dari 40 persen,” ujar Abdul Wahid dalam Forum Konsultasi Publik RPJMD Provinsi Riau 2025-2029, Rabu (12/3/2025).

Sebagai langkah tambahan, Pemprov Riau juga akan memangkas sejumlah anggaran lain, termasuk biaya perjalanan dinas, konsumsi rapat, serta sewa gedung untuk kegiatan seremonial dan Focus Group Discussion (FGD). Upaya ini diharapkan dapat membantu menyeimbangkan kondisi keuangan daerah dan menuntaskan persoalan tunda bayar di tahun 2025.


Tulis Komentar