Nasional

Perumahan Balaroa 'tenggelam' akibat gempa Palu: 'Tolong pak, adik saya diangkut dari reruntuhan'

Seorang perempuan menangis di antara reruntuhan Kota Palu, Sulawesi Tengah.

GILANGNEWS.COM - "Pak, tolong pak, adik saya diangkat (dari dalam reruntuhan)…"

Ratapan ibu muda, sebutlah Irma, menggema di atas reruntuhan ratusan bangunan rumah yang terbenam di dalam tanah di kampung Balaroa, di pinggiran kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (01/10) sore kemarin.

Tiga hari setelah gempa mengguncang Palu, Irma masih berharap adiknya masih bisa ditemukan dalam kondisi hidup.

"Kasihan dia."

Suaranya terdengar semakin pelan, sementara air mata meleleh di pipinya.

Sore itu, dia berjalan gontai sambil dipapah salah satu kerabatnya, setelah harapannya menemukan adiknya menemui jalan buntu. Tim relawan gagal menembus reruntuhan rumahnya.

"Tolong alat berat, karena masyarakat kekurangan alat…" Harapan ini muncul dari kerabat Irma.

Irma dan keluarganya tinggal di kampung Balaroa, atau lazim disebut perumahan Balaroa.

Kira-kira seluas lebih dari dua lapangan sepak bola, letak perumahan ini berada di ketinggian di wilayah barat kota Palu.

Keberadaan perumahan, yang luluh-lantak ini, menjadi perhatian, karena kerusakannya yang masif.

"Awalnya, tanahnya goyang kencang, lalu bangunan langsung roboh. Kemudian tanah longsor dan bergeser," tutur Irma kepada wartawan BBC News Indonesia, di Palu, Heyder Affan.

Turun lima meter

Ariyanto, yang bertelanjang dada, saya temui di dekat reruntuhan rumahnya, yang turun kira-kira lima meter ke dalam tanah.

Anak dan istrinya berhasil lolos dari maut, tetapi tidak dengan ibu mertuanya.

"Banyak yang berhasil selamat, tapi, karena ini datangnya tiba-tiba dan robohnya yang tiba-tiba, banyak yang terjebak," ungkap Ariyanto.

Video pendek gempa yang memorakpondakan perumahan Balaroa ini sempat tersebar di media sosial. Api dan asap yang membumbung terlihat setelah guncangan itu terjadi.

"Habis gempa, kira-kira 15 menit kemudian, ada beberapa rumah yang terbakar. Api merembet semalaman," ungkapnya.

Saat Ariyanto merenungi kembali apa yang dialami, terlihat belasan anggota badan SAR dan relawan hilir mudik di lokasi bencana. Mereka membawa alat seadanya.

"Ada mayat yang baru ditemukan," ujar salah seorang diantara mereka.

Tidak jauh dari iring-iringan tim relawan, seorang imam memimpin salat jenazah delapan korban gempa yang baru ditemukan kemarin. "Itu ayah saya," kata seorang pria dengan pipi yang masih basah dengan air mata.

Salat jenazah itu digelar di ruas jalan - yang tidak hancur - di samping reruntuhan perumahan. Jenazah masih terbungkus dalam tas plastis bertuliskan Basarnas.

Dihadapkan kerusakan parah yang luar biasa dan di sisi lain ada fakta keterbasan manusia, harapan agar segera dihadirkan alat berat menjadi tuntutan banyak keluarga korban gempa di Palu.

Kasus tenggelamnya ratusan rumah ke dalam tanah di Balaroa, dan kasus serupa lainnya di Palu, disadari betul oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, Willem Rampangilei.

"Kegiatan kita, pencarian dan penyelamatan korban yang masih tertimbun," kata Willem kepada wartawan dan media, Heyder Affan, Senin (01/10).

Namun demikian, Willem mengakui pihaknya dihadapkan masih minimnya kehadiran alat berat.

"Misalnya di lokasi bencana, hanya ada satu alat berat, padahal kita membutuhkan empat alat berat," ungkapnya menyebut kasus 'tenggelamnya' ratusan rumah dalam 'lautan 'lumpur di pinggiran kota Palu.

Saat ini, pihaknya terus mendatangkan alat-alat berat dari luar Kota Palu.

"Tapi untuk mendatangkan alat berat kemarin, kan membutuhkan waktu," katanya.

Keterbatasan alat berat membuat sebagian orang yakin masih akan ada banyak korban di dalam reruntuhan bangunan.


[Ikuti GilangNews.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar