GILANGNEWS.COM - Langkah Pemerintah Kota Pekanbaru yang mewacanakan pemindahan kegiatan Car Free Day (CFD) ke kawasan Kampung Bandar, Senapelan, memantik perdebatan. Di balik semangat menghidupkan kawasan tepian Sungai Siak yang menjadi alasan utamanya, terselip pertanyaan mendasar: apakah benar CFD adalah solusi?
Wacana itu mencuat dari Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar. Ia menyebut bahwa Kampung Bandar yang sarat sejarah dan berada di tepian Sungai Siak memiliki potensi untuk menjadi pusat aktivitas warga, terutama di akhir pekan. Menggelar CFD di sana dianggap sebagai langkah strategis untuk menghidupkan denyut kawasan yang pernah jadi nadi kota lama itu.
Namun, niat baik tak selalu bertemu dengan cara yang tepat. Anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru, Syafri Syarif, angkat bicara. Ia menyebut pemindahan CFD ke Kampung Bandar justru berpotensi mengaburkan tujuan utama dari kegiatan tersebut.
“Car Free Day itu bukan sekadar acara mingguan atau tempat kongko semata. Ada tujuan besar di baliknya yaitu mengurangi polusi dari kendaraan bermotor yang menguasai kawasan padat lalu lintas. Maka itu, pelaksanaannya dipilih di jalan-jalan utama,” ujar Syafri kepada gilangnews.com Rabu (9/4/2025).
Menurut Syafri, selain soal polusi, CFD juga menjadi momentum warga untuk merasakan ruang-ruang publik yang selama hari kerja nyaris tak terjangkau. Jalan protokol, area kantor pemerintahan, dan koridor bisnis menjadi ruang sosial terbuka setiap Minggu pagi.
“Kalau tujuannya ingin menghidupkan Kampung Bandar, bukan CFD yang dipindahkan. Justru harus disiapkan fasilitas yang menopang kehidupan di sana seperti membangun ruang UMKM, panggung kreativitas anak muda, dan infrastruktur penunjang,” tegasnya.
Ia menilai CFD yang hanya digelar seminggu sekali tak akan punya daya dorong signifikan untuk membangun ekosistem ekonomi dan budaya yang berkelanjutan. Apalagi, pemindahan lokasi CFD juga menyisakan persoalan yang tak kecil.
“Coba dihitung, berapa banyak pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari CFD di lokasi sekarang? Apakah semuanya akan tertampung di tepian sungai itu? Belum lagi soal parkir kendaraan, apakah sudah disiapkan?” tanya Syafri
Bagi Syafri, pemindahan lokasi CFD tak bisa hanya bermodalkan niat revitalisasi. Perlu kajian komprehensif, melibatkan komunitas, pelaku UMKM, hingga pegiat lingkungan dan transportasi kota. Ia menyarankan agar Pemko fokus membangun ekosistem kawasan Kampung Bandar secara menyeluruh, bukan dengan pendekatan simbolik semata.
“Kalau dikelola serius, kawasan itu bisa hidup setiap hari. Tapi ya harus ada niat membangun—bukan cuma memindahkan,” pungkasnya.
Tulis Komentar